Negosiasi Kultur dan Agama: Upaya Islamisasi Tradisi Rokat pada Masyarakat Madura Probolinggo dalam Perspektif Raymond Williams
Abstract
Tulisan ini mengkaji dan menganalisis lebih dalam, proses negosiasi budaya tradisional, yang ada didalam tradisi rokat dalam pengupayaan islamisasi budaya. Pada banyak kajian literatur, isu rokat biasanya hanya berfokus pada sejarah dan prosesi ritual. Dalam hal ini penulis menemukan celah baru, bagaimana masyarakat Madura di Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, mampu mempertahankan tradisi rokat kejawen (kuno), dan menerima rokat Islam (baru). Oleh karena itu, penting untuk mengkaji tindakan yang dilakukan para aktor, dan makna-makna yang muncul di masyarakat terkait perubahan praktik tradisi rokat. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran masyarakat dan melakukan analisis lebih dalam terhadap proses negosiasi budaya tradisi rokat dalam konteks islamisasi sebagai praktik ritual. Dengan menggunakan metode penelitian etnografi kualitatif, yang meliputi observasi langsung, wawancara, dokumentasi, dan tinjauan pustaka, serta memakai 3 konsep budaya Raymond Williams. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat dua kategori pemimpin rokat, yaitu pemimpin rokat tradisional Jawa (mengikuti ajaran leluhur) dan pemimpin rokat Islam. Perundingan rokat Islam muncul melalui tokoh-tokoh Islam, yang menafsirkan kembali makna rokat dalam kerangka nilai-nilai Islam, sedangkan rokat Jawa tetap mempertahankan praktik dan makna tradisional.