dc.description.abstract | Kakao (Theobroma cocoa L.) merupakan salah satu komoditi lokal unggulan di Kabupaten Jember. Peningkatan permintaan produk kakao menjadikan perekonomian masyarakat meningkat, namun berdampak pada penumpukan limbah, salah satunya limbah kulit buah kakao. Kulit buah kakao ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pektin, yang dapat diproduksi dengan metode ekstraksi. Faktor yang berpengaruh dalam produksi pektin salah satunya adalah pelarut yang digunakan. Penelitian ini mengkaji pengaruh penggunaan jenis asam sebagai pelarut dalam ekstraksi pektin, terhadap rendemen dan karakteristik pektin yang dihasilkan. Karakteristik yang diamati meliputi kelarutan, daya ikat air, warna, dan konfirmasi gugus fungsi menggunakan FTIR.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa jenis pelarut dan konsentrasi mempengaruhi rendemen yang didapatkan. Rendemen tertinggi diperoleh pada pelarut asam sitrat p.a konsentrasi 5% dengan rendemen yang dihasilkan 10,13%. Rendemen terendah didapat pada pelarut asam asetat p.a 25% dengan rendemen yang dipeloleh 6,71%. Karakteristik pektin hasil ekstraksi kulit buah kakao tidak dipengaruhi oleh jenis pelarut dan konsentrasi dimana nilai daya ikat air pada konsentrasi 25% pada semua jenis pelarut berkisar antara 4,1-7,1 g H2O/g pektin kering, konsentrasi 12,5% sebesar 6,3-19,6 g H2O/g pektin kering dan konsentrasi 5% berkisar antara 5,4-13,9 g H2O/g pektin kering. Kelarutan pektin dalam air pada konsentrasi 25% pada semua jenis pelarut yaitu antara 2,5-5,5%, konsentrasi 12,5% antara 3,1-4,7%, dan konsentrasi 5% antara 0,9-4,2%. Hasil konfirmasi menggunakan spektrofotometer FTIR menunjukkan bahwa hasil ekstraksi yang didapat adalah pektin, yang ditandai oleh adanya gugus OH, ikatan –CH3, ikatan C-H, gugus karbonil, eter. | en_US |