Efektivitas Tumbuhan Lakum Air (Ludwigia decurrens (DC.) Walter pada Lahan Basah Buatan dalam Menurunkan Kadar Pencemar Air Limbah Industri Tahu
Abstract
Tahu merupakan makanan olahan yang bahan baku utamanya adalah biji
kedelai (Glycine spp.). Proses pembuatan tahu menghasilkan air limbah industri
yang bersifat asam, mengandung senyawa organik dan materi padat tersuspensi
total (TSS) tinggi. Air limbah salah satu industri di Jember tidak memenuhi baku
mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan kedelai berupa tahu.
Jika air limbah tersebut dibuang langsung ke sungai dapat menyebabkan
pencemaran ekosistem tersebut. Agar supaya air limbah tahu memenuhi baku
mutu maka air limbah harus diolah terlebih dahulu agar kadar pencemarannya
turun. Kadar pencemar air limbah tahu dapat diukur berdasarkan parameter BOD,
TSS dan pH. Pengolahan air limbah industri tahu dapat menggunakan metode
fitoremediasi dalam lahan basah buatan. Salah satu jenis tumbuhan yang
berpotensi sebagai fitoremediator adalah tumbuhan Ludwigia decurrens (DC.)
Walter. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kadar TSS, BOD, dan pH air
limbah industri tahu di salah satu industri kecil di Jember menurut baku mutu air
limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan kedelai berupa tahu dan
menentukan efektivitas tumbuhan L. decurrens pada lahan basah buatan dalam
menurunkan kadar TSS dan BOD serta meningkatkan kadar pH air limbah
industri tahu.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2020 - Juli 2021. Pengolahan
air limbah industri tahu dilakukan di dalam tujuh bak reaktor. Empat bak reaktor
sebagai bak perlakuan yang ditanami tumbuhan dan tiga bak reaktor sebagai bak
kontrol tanpa ditanami tumbuhan. Di dalam setiap bak reaktor media padat
(kerikil, pasir dan tanah) diletakkan di bagian dasar bak sebagai media tanam
tumbuhan L. decurrens. Air limbah industri tahu sebelum perlakuan dianalisis
kadar TSS dengan metode gravimetri, BOD dengan metode winkler dan pH dengan menggunakan alat pH meter. Selanjutnya, air limbah tahu sebanyak 10 L
diarlirkan ke dalam bak reaktor melalui influent. Air limbah yang telah diolah di
dalam lahan basah buatan selama tujuh hari kemudian dikeluarkan melalui
effluent dan ditampung di dalam timba. Air limbah tersebut dianalisis kadar TSS,
BOD5 dan nilai pH dengan metode yang sama dengan pengukuran sebelum
perlakuan. Data rata-rata kadar TSS, BOD dan pH sebelum dan sesudah perlakuan
dibandingkan dengan baku mutu. Data yang telah diperoleh dianalisis untuk
menentukan beda nyata menggunakan uji T dua sampel berpasangan serta
menentukan efektivitas tumbuhan lakum air dalam menurunkan kadar TSS dan
BOD serta meningkatkan nilai pH air limbah industri tahu dengan menentukan
nilai efisiensi perubahan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar TSS berkisar antara 355 -
385 mg/L, BOD berkisar antara 1600 – 2240 mg/L dan pH berkisar antara 4,12 –
4,28. Kadar rata-rata tersebut tidak memenuhi baku mutu TSS, BOD dan pH air
limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan kedelai berupa tahu. Kadar TSS,
BOD dan pH sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan dianalisis untuk
menentukan beda nyata menggunakan uji T dua sampel berpasangan, hasilnya
kadar TSS, BOD dan pH sebelum perlakuan berbeda nyata dengan kadar TSS,
BOD dan pH sesudah perlakuan. Tumbuhan lakum air terbukti efektif dalam
menurunkan kadar TSS dengan nilai efisiensi penurunan sebesar 78,10 % dan
kadar BOD dengan nilai efisiensi penurunan sebesar 70,83 %. Selain itu juga
terbukti efektif dalam menaikan pH dengan nilai efisiensi peningkatan sebesar
79,57 %. Penurunan kadar TSS disebabkan proses filtrasi partikel-partikel TSS
yang terkandung di dalam air limbah oleh batang, cabang dan daun lakum air
yang terendam air limbah yang hasilnya adalah partikel-partikel TSS terperangkap
atau tertahan di permukaan batang, cabang dan daun tumbuhan tersebut. Partikelpartikel
TSS yang melekat di permukaan batang, cabang dan daun akan
didegradasi oleh biofilm. Kemungkinan lain yang menurunkan kadar TSS adalah
proses flokulasi partikel TSS yang kemudian mengendap di dasar lahan basah
buatan. Penurunan kadar BOD memiliki mekanisme seperti penurunan kadar TSS
yaitu melalui proses filtrasi dan sedimentasi. Penurunan materi organik juga disebabkan oleh kerjasaman antara bakteri yang hidup di zona perakaran dengan
tumbuhan L. decurrens. L. decurrens akan mengeluarkan eksudat melalui akar
untuk mendukung aktivitas bakteri dalam mendegradasi materi organik secara
aerob. Nilai pH mengalami peningkatan disebabkan oleh ion hidrogen (H+)
menurun dan ion hidroksil (OH-) meningkat. Peningkatan ion hidroksil (OH-) dan
penurunan ion hidrogen (H+) dipengaruhi oleh kandungan karbon dioksida (CO2)
dalam air dan suhu. Karbon dioksida di dalam air limbah bersifat tidak stabil.
Senyawa gas ini akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menyebabkan ion
hidrogen dalam air limbah mengalami penurunan. Penurunan ion hidrogen dalam
air limbah menyebabkan pH air limbah berubah menjadi meningkat.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Kadar TSS, BOD dan pH air limbah
dari salah satu industri pembuatan tahu di Jember tidak memenuhi baku mutu.
Tumbuhan lakum air (Ludwigia decurrens (DC.) Walter) dalam lahan basah
buatan tipe FWS terbukti mampu menurunkan kadar TSS dan BOD serta
meningkatkan pH yang ditunjukkan oleh Kadar TSS, BOD dan pH sebelum dan
sesudah perlakuan adalah berbeda secara nyata dan jenis tumbuhan ini juga efektif
menurunkan kadar TSS dan BOD serta meningkatkan pH.