Bagaimanakah Kesehatan Mental Remaja Etnis Madura Yang Menikah DI Usia Dini?
Date
2021-03-30Author
NAFIKADANI, Iken
INSANI, Dewi Amalia
LUTHVIATIN, Novia
Metadata
Show full item recordAbstract
Masyarakat etnis Madura memiliki nilai agama yang tinggi. Para pemimpin agama,
seperti Kyai, lebih diprioritaskan oleh mereka sebagai model peran dibandingkan
dengan tokoh pemerintah. Sebagian besar orang tua etnis tersebut berasumsi bahwa
pergaulan remaja saat ini mengkhawatirkan, sehingga perjodohan atau perkawinan
awal menjadi solusi positif untuk dilakukan. Budaya perkawinan dini dipandang oleh
sebagian besar etnis Madura sebagai alternatif yang paling tepat untuk melindungi anak
mereka dari penyimpangan pergaulan remaja. Kecamatan Sukowono, Kabupaten
Jember memiliki mayoritas etnis Madura dengan persentase tertinggi perempuan yang
sudah menikah kurang dari 20 tahun. Fenomena ini menarik peneliti melakukan studi
yang bertujuan untuk menentukan kesehatan mental di kalangan wanita muda etnis
Madura yang melakukan perkawinan dini. Studi ini dilakukan dengan menggunakan
pendekatan studi kasus kualitatif. Informan dalam studi ini berjumlah sembilan (9)
remaja putri yang telah menikah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informan
cenderung memiliki perasaan tertekan baik ketika mereka akan menikah atau setelah
menikah. Merasa tertekan karena terlalu tinggi kecemasan yang mereka rasakan.
Mereka belum mampu beradaptasi dengan status mereka sebagai istri, serta memiliki
rasa aman dan nyaman yang sangat rendah untuk dapat tinggal di lingkungan baru,
sehingga informan cenderung memilih untuk tinggal di lingkungan lama.
Collections
- LSP-Jurnal Ilmiah Dosen [7365]