Potensi Ekstrak Daun Ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) Konsentrasi 10% terhadap Ekspresi TGF-ꞵ pada Luka Pasca Pencabutan Gigi Tikus Wistar
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran Gigi
Abstract
Berdasarkan hasil riset dasar Kesehatan Indonesia tahun 2018, disebutkan
bahwa prevalensi masyarakat dengan masalah gigi dan mulut di Indonesia
mencapai 57,6%. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah kesehatan gigi dan
mulut, adalah dengan dilakukannya proses pencabutan gigi. Pencabutan gigi
merupakan suatu tindakan untuk mengeluarkan gigi dari prosesus alveolaris.
Proses pencabutan gigi akan memiliki resiko kerusakan jaringan, baik jaringan
keras maupun jaringan lunak, seperti rasa sakit, edema, dan perdarahan. Prosedur
pencabutan gigi tentu dapat mengakibatkan luka pada rongga mulut dan
mengalami suatu proses yang dinamakan proses inflamasi. TGF-ꞵ (Transforming
Growth Factor beta) merupakan sitokin anti inflamasi yang memiliki peran yang
sangat penting dalam proses penyembuhan luka. TGF-ꞵ mempunyai beberapa
peranan utama dalam penyembuhan luka yaitu mempengaruhi respon inflamasi,
angiogenesis, pembentukan jaringan granulasi, re-epitelisasi, deposisi matriks
ekstraselular, dan remodelling. Salah satu cara untuk mempercepat dan
mendukung penyembuhan luka setelah dilakukan pencabutan gigi adalah
digunakannya obat anti inflamasi seperti natrium diklofenak agar inflamasi dapat
dihentikan, akan tetapi terdapat efek samping yang cukup serius dalam
penggunaan obat AINS ini, tentu perlu dikembangkan obat yang memiliki fungsi
sama dengan bahan herbal atau alami. Salah satu bahan alami yang dapat
berpotensi mengendalikan inflamasi pada luka pasca pencabutan gigi adalah daun
ungu. Ekstrak daun ungu konsentrasi 10% dengan kandungan antiinflamasi
diharapkan dapat meningkatkan ekspresi TGF-ꞵ pada luka pasca pencabutan gigi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan ekspresi TGF-ꞵ pada luka
pasca pencabutan gigi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental
laboratoris dengan post-test only group design yang menggunakan 48 tikus wistar
jantan, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (1, 3, 5, dan 7
hari), kelompok kontrol positif (1, 3, 5, dan 7 hari), dan perlakuan (1, 3, 5, dan 7 hari). Seluruh tikus di ekstraksi pada gigi molar satu rahang atas kiri. Kelompok
kontrol negatif menerima aquades sebanyak 2ml setiap hari selama 1, 3, 5, dan 7.
Kelompok kontrol positif menerima natrium diklofenak sebanyak 2ml setiap hari
selama 1, 3, 5, dan 7. Kelompok perlakuan menerima ekstrak daun ungu 10%
sebanyak 2ml setiap hari selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Eutanasia dilakukan sehari
setelah pemberian ekstrak terakhir, diikuti dengan pemrosesan jaringan dan
pewarnaan IHC (imunohistokimia). Kemudian akan diamati menggunakan
mikroskop cahaya dan diinput ke aplikasi imageJ dengan plugin IHC Profiler
untuk mengetahui tingkat ekspresi TGF-ꞵ pada tiap kelompok. Setelah didapatkan
data, data akan dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk dan uji
homogenitas Levene Test, dilanjutkan dengan uji Two Way Annova dan LSD Pos
Hoc. Berdasarkan hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun ungu
mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Karena kadar
senyawa tersebut, kelompok perlakuan ekstrak daun ungu memiliki tingkat
ekspresi TGF-ꞵ lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol negatif. Hal ini dapat
terjadi karena kandungan aktif dalam ekstrak daun ungu yang dapat meningkatkan
ekspresi TGF-ꞵ sehingga dapat mengurangi peradangan, dan mempercepat
penyembuhan luka.
Description
Reaploud Repository February_agus
