Pengalaman Penggunaan Pre Exposure Prophylaxis (PrEP) Sebagai Upaya Pencegahan HIV pada Lelaki Seks Lelaki (LSL)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Tingginya prevalensi HIV pada kelompok LSL di Indonesia yang mencapai
24,4% secara nasional berdasarkan STBP 2023, sementara cakupan penggunaan
PrEP pada populasi LSL secara nasional masih sangat rendah, yakni hanya sekitar
6% melatar belakangi penelitian. PrEP merupakan strategi pencegahan HIV
berbasis antiretroviral yang terbukti mampu menurunkan risiko penularan HIV
hingga 99% apabila dikonsumsi secara konsisten. Meskipun pemerintah Indonesia
telah mendistribusikan PrEP secara gratis sejak 2021, implementasinya masih
menghadapi tantangan besar terutama pada aspek kepatuhan pengguna. Kajian
mendalam tentang pengalaman subjektif LSL dalam menggunakan PrEP di tingkat
lokal, khususnya di Kabupaten Jember, masih sangat terbatas sehingga penelitian
ini penting untuk dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman penggunaan PrEP
sebagai upaya pencegahan HIV pada LSL menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi dan kerangka teori Health Belief Model (HBM).
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam di Kabupaten Jember
pada periode Februari hingga April 2026, melibatkan 16 informan yang terdiri dari
satu informan kunci yakni Koordinator Humas OGAWA (Organisasi Gaya Warna),
sembilan informan utama yang merupakan LSL dengan variasi status penggunaan
PrEP aktif dan tidak aktif berusia 19-36 tahun, serta enam informan tambahan yang
terdiri dari petugas kesehatan, penjangkau lapangan, dan teman dekat informan
utama. Analisis data menggunakan analisis tematik dengan bantuan perangkat
lunak NVivo dan model Miles dan Huberman, dengan triangulasi sumber sebagai
strategi uji kredibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh konstruk HBM terbukti
relevan dalam menggambarkan fenomena penggunaan PrEP pada LSL di
Kabupaten Jember. Pertama, seluruh informan memiliki persepsi kerentanan yang
tinggi terhadap HIV yang bersumber dari pengaruh lingkungan sosial-seksual dan
refleksi terhadap perilaku berisiko, meskipun bersifat dinamis dan situasional.
Kedua, informan memaknai HIV sebagai penyakit serius dengan dampak masa
depan dan dampak psikologis yang berat. Ketiga, seluruh informan
mempersepsikan manfaat PrEP secara universal pada dimensi proteksi dan
keamanan, baik secara biologis maupun psikologis, dengan strategi double
protection sebagai wujud pemahaman yang realistis. Keempat, hambatan
penggunaan PrEP terbagi menjadi hambatan internal seperti lupa, kejenuhan, dan
stigma privasi, serta hambatan eksternal berupa keterbatasan ketersediaan stok obat
di fasilitas kesehatan. Kelima, penggunaan PrEP dipicu oleh faktor internal berupa
rasa takut dan kesadaran risiko, serta faktor eksternal berupa pengaruh teman
sebaya, pengalaman orang terdekat, dan peran edukasi petugas kesehatan maupun
penjangkau lapangan OGAWA. Keenam, sebagian besar informan memiliki efikasi
diri yang cukup dalam memulai dan mempertahankan penggunaan PrEP yang
dibangun atas keyakinan terhadap efektivitas obat dan komitmen personal
Description
Validasi dan Finalisasi Repositori File 28 Juli 2026_Kholif Basri
