Analisis Korelasi Antara Jumlah Gigi dan Persentase Massa Lemak pada Perempuan Berusia 50– 69 Tahun
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran Gigi
Abstract
Seiring dengan penuaan yang terjadi, lansia mengalami kemunduran
fisiologis yang ditandai dengan kehilangan gigi. Hilangnya gigi pada lansia dapat
menyebabkan penurunan fungsi mastikasi sehingga lansia biasanya memiliki
kecenderungan untuk memilih makanan yang lunak dan berlemak sehingga mudah
ditelan sehingga kecenderungan tersebut dapat menyebabkan perubahan pada
komposisi tubuhnya, yaitu persentase massa lemak. Kecamatan Kaliwates dengan
salah satu wilayah kerjanya adalah Kelurahan Kepatihan memiliki angka perawatan
tumpatan gigi permanen dan pencabutan gigi permanen tertinggi kelima dari
seluruh kecamatan di Kabupaten Jember disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
terkait kesehatan gigi dan mulut sehingga kebanyakan masyarakat tidak mengetahui
dampak yang akan ditimbulkan dari perawatan tersebut. Oleh karena itu,
dibutuhkan suatu pengukuran menggunakan metode Bioelectrical Impedance
Analysis (BIA) untuk memonitor perubahan komposisi tubuh yang disebabkan
adanya kehilangan gigi pada lansia.
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan
rancangan cross sectional. Subjek penelitian terdiri atas 60 orang perempuan
berusia 50–69 tahun. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok
1 dengan jumlah gigi 1–9, kelompok 2 dengan jumlah gigi 10–19, dan kelompok 3
dengan jumlah gigi ≥20. Setelah subjek menandatangi informed consent, dilakukan
perhitungan jumlah gigi yang tersisa di rongga mulut masing-masing subjek
penelitian, kemudian dilaksanakan perhitungan tinggi badan menggunakan
microtoise, dan pengukuran berat badan serta persentase massa lemak
menggunakan timbangan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA).
Hasil penelitian berdasarkan uji Spearman menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara jumlah gigi dan persentase massa lemak dengan nilai koefisien
sebesar -0.804 dan memiliki arah yang berbanding terbalik, semakin sedikit jumlah
gigi maka semakin tinggi persentase massa lemak. Selain itu, hasil scatter plot
menunjukkan nilai R2
linear sebesar 0.632 yang artinya bahwa variabel jumlah gigi
berhubungan variabel persentase massa lemak sebesar 63.2% dan sisanya
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti sebesar 36.8%.
Terjadinya kehilangan gigi pada lansia dapat menyebabkan penurunan
pada konsumsi asupan kalsium dan protein, serta aktivitas fisik yang rendah.
Kurangnya asupan kalsium menyebabkan tubuh lansia menjadi pendek yang
nantinya dapat berdampak pada berat badan dan BMInya. Kurangnya asupan
protein juga menyebabkan turunnya pembentukan massa otot sehingga pembakaran
massa lemak menjadi berkurang dan terjadi peningkatan berat badan dan BMI.
Selain itu, kurangnya aktivitas fisik seiring bertambahnya juga dapat menyebabkan
peningkatan berat badan dan BMI serta mempengaruhi kuantitas persentase massa
lemaknya.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang
didapat adalah terdapat hubungan antara jumlah gigi dan persentase massa lemak
yang sangat kuat dengan arah yang berbanding terbalik, semakin sedikit jumlah gigi
maka semakin tinggi persentase massa lemak. Adanya kehilangan gigi akan
mengubah selera dalam pemilihan jenis makanan. Lansia dengan kehilangan
banyak gigi memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi makanan yang lunak dan
berlemak sebab mudah ditelan. Kecenderungan mengonsumsi makanan lunak dan
berlemak pada lansia dapat menyebabkan peningkatan persentase massa lemak.
Selain itu, pada lansia dengan kehilangan gigi yang banyak dapat menyebabkan
immobilisasi otot sehingga terjadi peningkatan serat non kontraktil yang berdampak
pada terjadinya kekakuan otot dan terjadi persentase massa lemak.
Description
Reuploud file repositori 6 Mei 2026_Firli
