Studi Deskriptif Kelelahan Kerja pada Buruh Panggul Pasar di Wilayah Kerja Puskesmas Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Fenomena kelelahan kerja menjadi masalah penting yang sering diabaikan
pada pekerja yang melakukan aktivitas fisik berat dan berulang, seperti buruh
panggul pasar. Kelelahan kerja tidak hanya berdampak pada penurunan
produktivitas dan efisiensi, tetapi juga meningkatkan risiko cedera, gangguan
muskuloskeletal, serta penurunan kualitas hidup pekerja. Di wilayah kerja
Puskesmas Jember Kidul, aktivitas angkut barang yang dilakukan secara manual
dengan beban lebih dari 25–50 kilogram per hari dan waktu kerja melebihi delapan
jam menjadi faktor utama penyebab kelelahan. Kondisi lingkungan kerja seperti
suhu panas, kurangnya ventilasi, serta minimnya kesadaran akan keselamatan kerja
turut memperburuk risiko kelelahan. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk
mengetahui sejauh mana tingkat kelelahan dialami buruh panggul agar dapat
menjadi dasar bagi intervensi kesehatan kerja di sektor informal.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan
pendekatan cross sectional terhadap 90 buruh panggul dari total populasi 125 orang
yang dipilih secara insidental. Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan
Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI) yang mencakup lima dimensi
kelelahan, dan dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia
produktif 25–54 tahun (90%), dengan tingkat pendidikan terbanyak lulusan SMP
(40%), serta sebagian besar memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun (65,6%).
Seluruh responden bekerja lebih dari 8 jam per hari dan mengangkat beban melebihi
50 kilogram setiap hari. Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kelelahan kerja
menggunakan SOFI, ditemukan bahwa 96,7% buruh panggul mengalami kelelahan
kerja dalam kategori sedang, sedangkan 3,3% berada pada kategori rendah.
Dimensi kelelahan yang paling dominan adalah kekurangan energi (97,8%), diikuti
oleh rasa kantuk dan ketidaknyamanan fisik masing-masing sebesar 1,1%. Hasil ini
menunjukkan bahwa beban kerja fisik yang berat dan durasi kerja yang panjang
mengakibatkan penurunan energi tubuh, kelelahan otot, dan gangguan kebugaran
fisik. Meskipun sebagian besar pekerja masih mampu melaksanakan aktivitas
sehari-hari, kondisi kelelahan yang terus-menerus berisiko berkembang menjadi
kelelahan kronis apabila tidak diimbangi dengan istirahat dan asupan gizi yang
cukup. Pembahasan hasil menunjukkan bahwa kelelahan kerja pada buruh panggul
disebabkan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi
usia, status gizi, kondisi kesehatan, dan kebugaran jasmani, sedangkan faktor
eksternal mencakup beban kerja berat, jam kerja panjang, serta lingkungan kerja
panas dan tidak ergonomis. Aktivitas fisik yang dilakukan secara berulang tanpa
istirahat cukup menyebabkan penurunan cadangan energi otot dan menumpuknya
asam laktat, yang menimbulkan rasa lelah dan nyeri pada otot. Buruh panggul juga
berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal, seperti nyeri punggung, bahu, dan
lutut akibat posisi kerja yang tidak ergonomis. Selain itu, faktor sosial-ekonomi
seperti sistem upah harian dan tuntutan ekonomi membuat pekerja sulit membatasi
durasi kerja, sehingga waktu pemulihan tubuh menjadi tidak memadai.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa buruh panggul di
wilayah kerja Puskesmas Jember Kidul mengalami kelelahan kerja sedang yang
berpotensi berkembang menjadi kelelahan kronis jika tidak segera ditangani.
Peneliti menyarankan perlunya peningkatan kesadaran buruh akan pentingnya
istirahat, asupan gizi, serta pelatihan ergonomi. Puskesmas diharapkan dapat
melakukan penyuluhan kesehatan kerja secara berkala untuk mencegah risiko
kelelahan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja sektor inform
Description
Reuploud file repositori 20 Mei 2026_Firli
Validasi dan Finalisasi oleh Ratna 11 Juni 2026
