Komposisi Nyamuk Anopheles sp. Sebagai Vektor Malaria di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Komposisi Nyamuk Anopheles sp. Sebagai Vektor Malaria Di Kabupaten Kulon Progo
Daerah Istimewa Yogyakarta; Binti Masruroh; 201810401001; 38 halaman; Jurusan
Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember.
Malaria merupakan salah satu penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan
oleh infeksi Plasmodium yang ditularkan melalui vektor perantara yaitu Anopheles. Salah
satu wilayah di Indonesia yang merupakan daerah endemis malaria adalah Kabupaten
Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah ini masih mencatatkan kasus malaria
sebanyak 97 kasus pada tahun 2022. Nyamuk Anopheles memiliki tingkat diversitas yang
tinggi, hal inilah yang menyebabkan penanganan malaria menjadi kurang maksimal.
Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2023 – Oktober 2023. Penangkapan nyamuk
Anopheles dilakukan pada malam hari dimulai pukul 18.00 – 06.00 WIB dengan metode
penangkapan menggunakan 5 indikator yakni Hinggap Manusia Dalam Rumah (HMDR),
Hinggap Manusia Luar Rumah (HMLR), Istirahat Luar Rumah (ILR), Istirahat Sekitar
Kandang Ternak (ISKT) dan Hinggap Ternak (HT). Larva Anopheles juga diambil untuk
dilakukan tahapan rearing hingga menjadi nyamuk dewasa. Faktor abiotik pada lokasi
penelitian juga diukur yang meliputi pH air, dan DO air. Penelitian dilakukan pada 3
lokasi yakni di Kecamatan Samigaluh, Kalibawang dan Pengasih Kabupaten Kulon Progo
dan dilakukan masing-masing pada 3 rumah di tiap lokasi penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies pada lokasi penelitian di Kecamatan
Kalibawang dan Pengasih adalah Anopheles vagus sedangkan pada lokasi di Kecamatan
Samigaluh didominasi oleh Anopheles kochi. Selain kedua spesies tersebut, ditemukan
spesies lainnya yakni Anopheles maculatus, Anopheles barbirostris, Anopheles
balabacensis, Anopheles aconitus, dan Anopheles annularis. Keseluruhan spesies yang
ditemukan merupakan vektor malaria di Indonesia. Puncak kepadatan nyamuk Anopheles
pada lokasi penelitian ditemukan pada pukul 20.00 – 01.00. Nyamuk yang tertangkap
banyak didominasi pada metode penangkapan Istirahat Sekitar Kandang Ternak (ISKT),
dengan dominansi spesies dan frekuensi penangkapannya banyak dijumpai dalam kondisi
resting. Nyamuk yang ditemukan cenderung bersifat eksofilik dan zoofilik. Hasil
pengukuran faktor abiotik pada habitat nyamuk yakni suhu dan kelembapan menunjukkan
rentang suhu 20,7 – 26,4 oC dan kelembapan 70,04 – 82,6%. Faktor abiotik yang diukur
pada lokasi penemuan larva meliputi pH air, dan DO air. Hasilnya menunjukkan rentang pH 8,1 – 8,8, dan DO air 5,1 – 8,8 mg/l. Hal tersebut menunjukkan bahwa lokasi
penelitian memiliki lingkungan yang mendukung sebagai tempat kehidupan dari nyamuk
Anopheles.
Description
Reupload Repository 12 Februari 2026_Hasyim/Firdiana
