Gambaran Penggunaan Pestisida, Residu Organofosfat, dan Penanganan Pascapanen pada Stroberi (Fragaria X Ananassa) di Sentra Perkebunan Desa Ngancar, Kabupaten Magetan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Petani di Indonesia masih sering menggunakan pestisida secara tidak tepat
yang dapat menyebabkan residu pestisida, gangguan ekosistem, pencemaran
lingkungan, serta terjadinya keracunan. Pestisida organofosfat paling sering
digunakan oleh petani terutama pada tanaman yang rentan seperti stroberi. Stroberi
menempati peringkat pertama tanaman dengan kontaminasi pestisida tertinggi
menurut EWG’s Dirty Dozen. Penggunaan pestisida yang rutin hingga mendekati
masa panen menimbulkan kekhawatiran bagi konsumen khususnya pada kebun
petik sendiri yang seringkali buah dikonsumsi secara langsung. Agrowisata petik
buah menjadikan konsumen sebagai pelaku penanganan pascapanen, bukan petani.
Salah satu kebun stroberi dengan wisata petik sendiri adalah Desa Ngancar yang
menjadi penyumbang terbesar buah stroberi di Kecamatan Plaosan, Kabupaten
Magetan. Dimana Kabupaten Magetan memiliki lahan stroberi terluas di Jawa
Timur. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan
pestisida, kadar residu pestisida organofosfat, dan penanganan pascapanen pada
buah stroberi (Fragaria x ananassa).
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini studi ekologi.
Penelitian dilakukan pada petani stroberi di Desa Ngancar sebanyak 41 orang serta
pada pengunjung sebagai responden konsumen yang ditentukan secara accidental
sampling dengan total 30 orang. Sampel stroberi diambil pada kebun A, B, dan C
masing-masing 500 gram yang kemudian dilakukan pengujian residu pestisida di
Laboratorium Pengujian Pestisida UPT Proteksi TPH Jawa Timur. Instrumen yang
digunakan adalah Gas Chromatography (GC), lembar kuesioner dan lembar
observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah petani laki-laki lebih banyak
dibandingkan dengan perempuan dengan usia mayoritas antara 46-55 tahun yang
merupakan golongan lansia awal. Rata-rata tingkat pendidikan tergolong rendah,
namun hampir seluruh petani bekerja sebagai petani lebih dari 5 tahun. Pengetahuan
yang dimiliki kebanyakan petani termasuk kategori cukup. Metode penggunaan
pestisida berdasarkan prinsip 6 tepat, hanya tepat cara dan tepat mutu yang telah
dilakukan oleh seluruh petani, sedangkan prinsip tepat sasaran, jenis, takaran, dan
waktu belum dilakukan secara optimal. Residu klorpirifos dan diazinon tidak
ditemukan pada ketiga sampel berdasarkan pengujian kadar residu pestisida
sehingga masih di bawah Batas Maksimum Residu (BMR).
Penanganan pascapanen yang dapat dilakukan adalah pencucian dengan
tujuan untuk meminimalisir adanya kontaminasi residu pestisida. Seluruh
konsumen telah mencuci buah stroberi tepat sebelum dikonsumsi menggunakan air
mengalir. Namun masih terdapat perilaku mencuci buah stroberi sebelum disimpan
dalam kulkas, tidak mencuci tangan sebelum mencuci buah stroberi, serta tidak
memperhatikan waktu pencucian. Penggunaan deterjen serta perendaman dengan
larutan tertentu tidak banyak dilakukan oleh konsumen.
Saran yang dapat dilakukan oleh petani adalah dengan menggunakan
pestisida nabati untuk mengatasi OPT serta meningkatkan kesadaran untuk
membaca pedoman penggunaan pestisida. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura,
dan Perkebunan melakukan uji residu pestisida pada stroberi. Dinas Kesehatan
dapat melakukan promosi penggunaan APD, dampak kesehatan akibat pestisida,
penanganan pascapanen yang tepat, serta melakukan deteksi dini dan penanganan
keracunan pestisida. Bagi konsumen dapat melakukan pencucian buah sebelum
dikonsumsi dengan benar. Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan pengujian
residu pestisida jenis lain, menambah jumlah atau jenis sampel, melakukan
pengembangan pestisida nabati, serta dapat melakukan penelitian tentang
pengolahan buah sebelum dikonsumsi pada populasi tertentu.
Description
Reupload File Repositori 4 Februari 2026_Rudy K/Lia
