Sejarah Tradisi Puter Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu dalam Konteks Keanggotaan AMAN Osing Tahun 2016-2023
| dc.contributor.author | Lailia Ardha Pramesti | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-11T07:50:50Z | |
| dc.date.issued | 2025-12-01 | |
| dc.description | reupload 2026 Rudi H Validasi repository 11 Juni 2026_Naomy/Firly | |
| dc.description.abstract | Puter Kayun merupakan Tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi setiap 10 syawal. Tradisi Puter Kayun memiliki keterkaitan erat dengan keyakinan masyarakat Rumusan masalah pertama yang dikaji pada penelitian ini yaitu bagaimana sejarah Tradisi Puter Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu?. Rumusan masalah kedua yaitu bagaimana sejarah dan dinamika keanggotaan Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu dalam AMAN Osing tahun 2016-2023?. Tujuan penelitian yang pertama untuk mengetahui tentang bagaimana sejarah Tradisi Puter Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu. Tujuan penelitian kedua untuk mengetahui tentang bagaimana sejarah dan dinamika keanggotaan Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu dalam AMAN Osing tahun 2016 2023. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Tahapan penelitian sejarah yang digunakan merujuk pada buku yang dikemukakan oleh C.H.V. Langlois dan C.H. Seignobos dalam buku yang berjudul Introduction to the Study of History. Metode tersebut terdiri dari empat langkah yang saling berkaitan. Tahapan tersebut meliputi heuristik yaitu proses pengumpulan sumber yang dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk memperoleh data yang relevan, kritik sumber untuk menilai keaslian dan kredibilitas data, interpretasi untuk menafsirkan dan menghubungkan informasi, serta historiografi sebagai tahap penulisan akhir. Hasil penelitian pertama menunjukan bahwa Tradisi Puter Kayun merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Osing Boyolangu secara turun-temurun hingga saat ini. Rangkaian acara Puter Kayun dilaksanakan dari 7 10 syawal, dimana puncak acara tradisi Puter Kayun dilaksanakan pada 10 syawal dengan bersama-sama pergi ke Watu Dodol sejauh 15 km. Tradisi ini berakar dari upaya masyarakat Boyolangu untuk nguri-uri atau melestarikan tradisi yang tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat Boyolangu yang dahulunya sebagian besar berprofesi sebagai kusir dokar. Pada bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri, para kusir sangat sibuk bekerja sehingga hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga. Dari kondisi itu muncul inisiatif untuk bersama-sama pergi ke Watu Dodol sebagai bentuk liburan keluarga. Tradisi ini menjadi momen bagi masyarakat Boyolangu untuk berlibur bersama keluarga, menikmati perjalanan menuju Watu Dodol sambil mempererat hubungan antar keluarga dan sesama warga. Hasil penelitian kedua mengenai sejarah dan dinamika keanggotaan Boyolangu dalam AMAN Osing tahun 2016-2023. Boyolangu resmi menjadi anggota AMAN Osing pada RPB XVIII tahun 2016. Sebelum itu, panitia Puter Kayun sudah dibentuk setiap tahun, tetapi belum memiliki struktur adat yang tetap. Setelah menjadi anggota AMAN, kebutuhan kelembagaan yang lebih kokoh mendorong pembentukan Pengurus Adat Puter Kayun pada 2019. viii Hasil penelitian ketiga mengenai dinamika Tradisi Puter Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu tahun 2016-2023 yang dibagi menjadi empat pembahasan. Pembahasan pertama terkait pelaksanaan Tradisi Puter Kayun yang mulai dikemas lebih menarik dengan tambahan-tambahan pra acara sebelum acara inti dan tahun 2023 hingga saat ini, dokar yang digunakan tidak sampai ke Watu Dodol akan tetapi hanya sebagai simbolisasi saja. Pembahasan kedua mengenai pelaku Tradisi Puter Kayun, dimana bertambahnya jumlah masyarakat luar Boyolangu yang ikut serta dalam memeriahkan acara. Tahun 2019 dibentuklah lembaga adat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan juga sebagai wadah untuk memelihara nilai-nilai budaya masyarakat secara optimal. Pembahasan ketiga mengenai atribut dalam pelaksanaan tradisi yang mengalami perubahan, seperti jumlah dokar yang digunakan tiap tahunnya semakin berkurang. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa Wong Osing merupakan masyarakat asli Blambangan yang telah tinggal secara turun-temurun di Banyuwangi. Masyarakat adat Osing di Kelurahan Boyolangu hingga kini masih mempertahankan identitas budayanya melalui Tradisi Puter Kayun. Walaupun terjadi perubahan dalam pelaksanaannya terutama pada penggunaan dokar yang kini hanya difungsikan sebagai simbol, tradisi ini tetap dijalankan dengan makna dan tujuan yang sama yaitu penghormatan kepada leluhur dan pelestarian budaya lokal. Sejak Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu bergabung dengan AMAN Osing pada tahun 2016, tradisi ini semakin mendapatkan penguatan identitas, dukungan kelembagaan, serta ruang untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, Puter Kayun merupakan warisan budaya yang terus hidup melalui keterlibatan masyarakat, tokoh adat, dan lembaga komunitas, meskipun tetap menghadapi tantangan dalam dokumentasi, regenerasi, dan pelestarian di tengah modernisasi. | |
| dc.description.sponsorship | Pembimbing Utama: Rully Putri Nirmala Puji, S.Pd., M.Ed. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/8736 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan | |
| dc.subject | Tradisi | |
| dc.subject | Puter Kayun | |
| dc.subject | Adat Osing Boyolangu | |
| dc.title | Sejarah Tradisi Puter Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu dalam Konteks Keanggotaan AMAN Osing Tahun 2016-2023 | |
| dc.type | Other |
