Sejarah Tradisi Puter Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu dalam Konteks Keanggotaan AMAN Osing Tahun 2016-2023
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Puter Kayun merupakan Tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat
Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi setiap 10 syawal.
Tradisi Puter Kayun memiliki keterkaitan erat dengan keyakinan masyarakat
Rumusan masalah pertama yang dikaji pada penelitian ini yaitu bagaimana sejarah
Tradisi Puter Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu?. Rumusan
masalah kedua yaitu bagaimana sejarah dan dinamika keanggotaan Komunitas
Masyarakat Adat Osing Boyolangu dalam AMAN Osing tahun 2016-2023?. Tujuan
penelitian yang pertama untuk mengetahui tentang bagaimana sejarah Tradisi Puter
Kayun Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu. Tujuan penelitian kedua
untuk mengetahui tentang bagaimana sejarah dan dinamika keanggotaan
Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu dalam AMAN Osing tahun 2016
2023. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Tahapan penelitian sejarah yang
digunakan merujuk pada buku yang dikemukakan oleh C.H.V. Langlois dan C.H.
Seignobos dalam buku yang berjudul Introduction to the Study of History. Metode
tersebut terdiri dari empat langkah yang saling berkaitan. Tahapan tersebut meliputi
heuristik yaitu proses pengumpulan sumber yang dalam penelitian ini dilakukan
melalui observasi dan wawancara untuk memperoleh data yang relevan, kritik
sumber untuk menilai keaslian dan kredibilitas data, interpretasi untuk menafsirkan
dan menghubungkan informasi, serta historiografi sebagai tahap penulisan akhir.
Hasil penelitian pertama menunjukan bahwa Tradisi Puter Kayun
merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Osing Boyolangu secara
turun-temurun hingga saat ini. Rangkaian acara Puter Kayun dilaksanakan dari 7
10 syawal, dimana puncak acara tradisi Puter Kayun dilaksanakan pada 10 syawal
dengan bersama-sama pergi ke Watu Dodol sejauh 15 km. Tradisi ini berakar dari
upaya masyarakat Boyolangu untuk nguri-uri atau melestarikan tradisi yang
tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat Boyolangu yang dahulunya sebagian
besar berprofesi sebagai kusir dokar. Pada bulan Ramadhan hingga menjelang Idul
Fitri, para kusir sangat sibuk bekerja sehingga hampir tidak memiliki waktu untuk
keluarga. Dari kondisi itu muncul inisiatif untuk bersama-sama pergi ke Watu
Dodol sebagai bentuk liburan keluarga. Tradisi ini menjadi momen bagi masyarakat
Boyolangu untuk berlibur bersama keluarga, menikmati perjalanan menuju Watu
Dodol sambil mempererat hubungan antar keluarga dan sesama warga. Hasil penelitian kedua mengenai sejarah dan dinamika keanggotaan
Boyolangu dalam AMAN Osing tahun 2016-2023. Boyolangu resmi menjadi
anggota AMAN Osing pada RPB XVIII tahun 2016. Sebelum itu, panitia Puter
Kayun sudah dibentuk setiap tahun, tetapi belum memiliki struktur adat yang tetap.
Setelah menjadi anggota AMAN, kebutuhan kelembagaan yang lebih kokoh
mendorong pembentukan Pengurus Adat Puter Kayun pada 2019.
viii
Hasil penelitian ketiga mengenai dinamika Tradisi Puter Kayun Komunitas
Masyarakat Adat Osing Boyolangu tahun 2016-2023 yang dibagi menjadi empat
pembahasan. Pembahasan pertama terkait pelaksanaan Tradisi Puter Kayun yang
mulai dikemas lebih menarik dengan tambahan-tambahan pra acara sebelum acara
inti dan tahun 2023 hingga saat ini, dokar yang digunakan tidak sampai ke Watu
Dodol akan tetapi hanya sebagai simbolisasi saja. Pembahasan kedua mengenai
pelaku Tradisi Puter Kayun, dimana bertambahnya jumlah masyarakat luar
Boyolangu yang ikut serta dalam memeriahkan acara. Tahun 2019 dibentuklah
lembaga adat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan juga sebagai wadah untuk
memelihara nilai-nilai budaya masyarakat secara optimal. Pembahasan ketiga
mengenai atribut dalam pelaksanaan tradisi yang mengalami perubahan, seperti
jumlah dokar yang digunakan tiap tahunnya semakin berkurang.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa Wong Osing merupakan
masyarakat asli Blambangan yang telah tinggal secara turun-temurun di
Banyuwangi. Masyarakat adat Osing di Kelurahan Boyolangu hingga kini masih
mempertahankan identitas budayanya melalui Tradisi Puter Kayun. Walaupun
terjadi perubahan dalam pelaksanaannya terutama pada penggunaan dokar yang
kini hanya difungsikan sebagai simbol, tradisi ini tetap dijalankan dengan makna
dan tujuan yang sama yaitu penghormatan kepada leluhur dan pelestarian budaya
lokal. Sejak Komunitas Masyarakat Adat Osing Boyolangu bergabung dengan
AMAN Osing pada tahun 2016, tradisi ini semakin mendapatkan penguatan
identitas, dukungan kelembagaan, serta ruang untuk beradaptasi dengan
perkembangan zaman. Dengan demikian, Puter Kayun merupakan warisan budaya
yang terus hidup melalui keterlibatan masyarakat, tokoh adat, dan lembaga
komunitas, meskipun tetap menghadapi tantangan dalam dokumentasi, regenerasi,
dan pelestarian di tengah modernisasi.
Description
reupload 2026 Rudi H
Validasi repository 11 Juni 2026_Naomy/Firly
