Hubungan Biomarker Paparan Debu Tembakau (Kotinin Urin) dengan eGFR Pekerja PTPN X Jember

dc.contributor.authorWina Nur Safitri
dc.date.accessioned2026-05-13T05:20:07Z
dc.date.issued2024-12-07
dc.descriptionupload by Teddy FINALISASI oleh Arif 2026 Mei 13
dc.description.abstractPenelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 44 pekerja wanita, yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel dilakukan pada periode Juli-Desember 2024. Paparan debu tembakau diukur menggunanakan biomarker kadar kotinin urin yang dianalisis menggunakan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), sedangkan eGFR dihitung menggunakan rumus Cockcroft and Gault yang disesuaikan dengan Body Surface Area (BSA) menggunakan rumus Mosteller. Analisis data meliputi analisis univariat statistik deskriptif dan analisis bivariat untuk menguji hubungan antar variabel menggunakan uji korelasi Pearson non-parametrik yang dilakukan menggunakan IBM SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 36-45 tahun (65,9%) dan memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun (56,8%), yang mencerminkan pengalaman kerja yang panjang serta potensi paparan rutin terhadap debu tembakau. Berdasarkan kategori IMT, mayoritas responden berada dalam kategori kelebihan berat badan (54,5%), diikuti oleh obesitas (27,3%).dan kategori normal (18,2%), tanpa ada responden yang berada dalam kategori kurang gizi. Sebagian besar responden (59,1%) juga merupakan perokok pasif, sementara sisanya (40,9%) bukan perokok pasif. Rata-rata kadar kotinin urin pekerja adalah 97,09 ng/mL. Hal ini menunjukkan paparan debu tembakau dapat meningkatkan kadar kotinin urin jika dibandingan dengan kadar pada perokok pasif. Sedangkan rata-rata eGFR adalah 153,52 mL/min/1,73m² yang tergolong tinggi, karena nilai eGFR normal biasanya berada di kisaran 90-120 mL/min/1,73m². Nilai eGFR yang tinggi ini bisa menjadi indikasi adanya kondisi renal hyperfiltration, yaitu peningkatan laju filtrasi glomerulus di atas batas normal yang berfungsi sebagai mekanisme kompensasi awal ketika terjadi kerusakan pada ginjal. Pada tahap awal, kondisi ini membantu mempertahankan fungsi ginjal. Hiperfiltrasi yang berlangsung secara berkepanjangan berpotensi menyebabkan kerusakan struktural ginjal dan mengganggu fungsinya, yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan eGFR. Analisis korelasi Pearson menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,042 dengan nilai p sebesar 0,789. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar kotinin urin, sebagai biomarker paparan debu tembakau, tidak memiliki hubungan signifikan dengan eGFR pada pekerja PTPN X Jember.
dc.description.sponsorshipDr. dr. Hairrudin, M.Kes. - dr. Yudha Nurdian, M.Kes.
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/7352
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Kedokteran
dc.subjectBiomarker
dc.subjectDebu Tembakau
dc.subjecteGFR
dc.titleHubungan Biomarker Paparan Debu Tembakau (Kotinin Urin) dengan eGFR Pekerja PTPN X Jember
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
WINA NUR SAFITRI - 212010101011.pdf
Size:
5.81 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: