Hubungan Biomarker Paparan Debu Tembakau (Kotinin Urin) dengan eGFR Pekerja PTPN X Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan
pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 44 pekerja wanita, yang dipilih
berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel dilakukan pada
periode Juli-Desember 2024. Paparan debu tembakau diukur menggunanakan
biomarker kadar kotinin urin yang dianalisis menggunakan metode Enzyme-Linked
Immunosorbent Assay (ELISA), sedangkan eGFR dihitung menggunakan rumus
Cockcroft and Gault yang disesuaikan dengan Body Surface Area (BSA)
menggunakan rumus Mosteller. Analisis data meliputi analisis univariat statistik
deskriptif dan analisis bivariat untuk menguji hubungan antar variabel
menggunakan uji korelasi Pearson non-parametrik yang dilakukan menggunakan
IBM SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 36-45
tahun (65,9%) dan memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun (56,8%), yang
mencerminkan pengalaman kerja yang panjang serta potensi paparan rutin terhadap
debu tembakau. Berdasarkan kategori IMT, mayoritas responden berada dalam
kategori kelebihan berat badan (54,5%), diikuti oleh obesitas (27,3%).dan kategori
normal (18,2%), tanpa ada responden yang berada dalam kategori kurang gizi.
Sebagian besar responden (59,1%) juga merupakan perokok pasif, sementara
sisanya (40,9%) bukan perokok pasif. Rata-rata kadar kotinin urin pekerja adalah
97,09 ng/mL. Hal ini menunjukkan paparan debu tembakau dapat meningkatkan
kadar kotinin urin jika dibandingan dengan kadar pada perokok pasif. Sedangkan
rata-rata eGFR adalah 153,52 mL/min/1,73m² yang tergolong tinggi, karena nilai
eGFR normal biasanya berada di kisaran 90-120 mL/min/1,73m². Nilai eGFR yang
tinggi ini bisa menjadi indikasi adanya kondisi renal hyperfiltration, yaitu
peningkatan laju filtrasi glomerulus di atas batas normal yang berfungsi sebagai
mekanisme kompensasi awal ketika terjadi kerusakan pada ginjal. Pada tahap awal,
kondisi ini membantu mempertahankan fungsi ginjal. Hiperfiltrasi yang
berlangsung secara berkepanjangan berpotensi menyebabkan kerusakan struktural
ginjal dan mengganggu fungsinya, yang pada akhirnya akan menyebabkan
penurunan eGFR. Analisis korelasi Pearson menunjukkan koefisien korelasi
sebesar 0,042 dengan nilai p sebesar 0,789. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar
kotinin urin, sebagai biomarker paparan debu tembakau, tidak memiliki hubungan
signifikan dengan eGFR pada pekerja PTPN X Jember.
Description
upload by Teddy
FINALISASI oleh Arif 2026 Mei 13
