Pengaruh Video Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Fase D pada Materi Prisma
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Kemajuan teknologi semakin menuntut pendidikan untuk terus beradaptasi dan
menjadi lebih modern. Fokus utama dalam pendidikan yang lebih modern salah
satunya adalah kemampuan berpikir kritis. Hal ini dikarenakan berpikir kritis
merupakan bagian dari kompetensi 6C (Critical Thinking, Creativity, Communication, Collaboration, Citizenship/Culture, dan Character education/Connectivity) yang esensial pada proses pendidikan untuk memperbaiki kualitas berpikir dan pemecahan masalah peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan negara ini harus berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis guna mempersiapkan generasi yang kompetitif dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan sosial yang semakin kompleks. Sayangnya kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah apalagi diperburuk oleh metode pembelajaran konvensional yang dominan menggunakan ceramah, sehingga peserta didik cenderung menghafal. Video-Based Learning merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik melalui penerapan metode pembelajaran inovatif dan memanfaatkan teknologi. Metode pembelajaran ini berfokus pada efektivitas
penggunaan video sebagai media utama dalam proses belajar tanpa membuat
suasana jenuh. Penelitian dilaksanakan di SMPN 7 Jember pada semester genap
2024/2025 dengan jenis penelitian Quasi-Eksperiment dan desain non-equivalent
(pretest-posttest) control group. Pemilihan sampel penelitian menggunakan teknik
simple random sampling, yang terpilih kelas VIII J sebagai kelas eksperimen dan
VII F sebagai kelas kontrol. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
metode tes, dengan instrumen penelitiannya yakni lembar soal pretest dan posttest.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab dua rumusan masalah.
Rumusan masalah pertama dijawab melalui hasil rata-rata nilai pretest kelas eksperimen dan nilai posttest kelas eksperimen memiliki perbedaan rata-rata yang
signifikan, yakni 70,03 untuk rata-rata nilai pretest kelas eksperimen dan 82,34
untuk rata-rata nilai posttest-nya. Hal itu menunjukkan adanya peningkatan hasil
rata-rata dari sebelum pemberian intervensi dengan setelah pemberian intervensi.
Hasil perhitungan nilai pretest dan posttest di kelas eksperimen diuji menggunakan
uji Paired Sample T-test untuk uji perbedaan dua rata-rata nilai pada sampel yang
berpasangan, menunjukkan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000 dengan nilai probabilitas signifikansi < 0,05. Dengan demikian, dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan metode VBL terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik fase D pada materi prisma. Rumusan masalah kedua dijawab melalui hasil rata-rata nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki perbedaan rata-rata yang signifikan yakni pada kelas eksperimen adalah 82,34 dan kelas kontrol adalah 68,62. Selisih dari keduanya adalah 13,72 poin yang menandakan bahwa rata-rata nilai posttest pada kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Hasil perhitungan nilai posttest yang diuji menggunakan uji Independent Sample T-Test untuk uji perbedaan dua ratarata nilai pada sampel yang tidak berpasangan, menunjukkan nilai Sig.(2-tailed)
sebesar 0,000 dengan nilai probabilitas signifikansi < 0,05. Dengan demikian, dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis peserta didik yang menggunakan metode pembelajaran VBL dibandingkan dengan peserta didik yang menggunakan pembelajaran konvensional metode ceramah.
Keberhasilan metode VBL dalam hal memperbaiki kualitas kemampuan berpikir kritis di SMPN 7 Jember disebabkan karena setiap langkah pembelajarannya dikaitkan dengan indikator berpikir kritis. Hal tersebut terlihat dari infusi kemampuan berpikir kritis yang mulai muncul pada berbagai tahap pembelajaran dengan metode VBL. Saat menonton video, siswa menunjukkan kemampuan interpretasi; setelahnya, melalui pertanyaan pemantik dan diskusi, mereka mengembangkan analisis dan evaluasi; dan pada tahap akhir, mereka menyimpulkan materi secara utuh. Dengan demikian, penerapan metode VBL dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efisien dan efektif dalam
memberdayakan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Description
Reuploud file repositori 29 Jan 2026_Firli
