Analisis Faktor Kepatuhan Dokter Gigi Dalam Menerapkan Kewaspadaan Standar Untuk Mencegah Healthcare-Associated Infections (HAIS) di Puskesmas Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pascasarjana / Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Abstract
Healthcare-Associated Infections (HAIs) merupakan masalah
kesehatan global yang serius, terutama di negara berkembang, karena
meningkatkan lama rawat inap, biaya pengobatan, serta angka kesakitan dan
kematian. Dokter gigi memiliki risiko tinggi terhadap HAIs akibat prosedur yang
menghasilkan aerosol, cedera benda tajam, serta kebersihan tangan yang kurang
memadai. Meskipun kewaspadaan standar telah ditetapkan untuk mencegah infeksi,
tingkat kepatuhan di kalangan praktisi kedokteran gigi masih rendah. Pemahaman
mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan sangat penting untuk
meningkatkan pengendalian infeksi di layanan kesehatan primer.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan
pendekatan kuantitatif, dilakukan pada 50 Puskesmas di Kabupaten Jember.
Populasi terdiri dari 53 dokter gigi, seluruhnya dijadikan sampel (total sampling).
Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan dokumentasi, kemudian
dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi logistik ordinal dengan
bantuan SPSS. Variabel independen meliputi pengetahuan, motivasi, persepsi,
sikap, iklim keselamatan kerja, sarana prasarana, dukungan pimpinan, pelatihan,
dan pengawasan, dengan kepatuhan sebagai variabel dependen.
Hasil: Sebanyak 77,4% responden memiliki pengetahuan baik, 94,3% memiliki
motivasi tinggi, dan 86,8% menunjukkan sikap positif. Secara keseluruhan, 73,6%
dokter gigi patuh terhadap kewaspadaan standar. Analisis statistik menunjukkan
bahwa pengetahuan, sikap, iklim keselamatan kerja, sarana prasarana, pelatihan,
dan pengawasan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan, sedangkan motivasi,
persepsi, dan dukungan pimpinan tidak berpengaruh. Pengetahuan muncul sebagai
faktor paling dominan dengan odds ratio sebesar 5,9, yang berarti dokter gigi
dengan pengetahuan lebih tinggi memiliki peluang lima kali lebih besar untuk
patuh.
Kesimpulan: Kepatuhan dokter gigi terhadap kewaspadaan standar di Kabupaten
Jember tergolong cukup baik, namun dipengaruhi oleh beberapa faktor, dengan
pengetahuan sebagai determinan paling kuat. Hasil ini menegaskan pentingnya
pendidikan berkelanjutan, pelatihan rutin, pengawasan yang lebih optimal, serta
ketersediaan sarana untuk memperkuat praktik pencegahan infeksi di layanan
kesehatan primer. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori melalui
integrasi model perilaku kesehatan serta memberikan implikasi praktis bagi
pengambil kebijakan dalam memperkuat program pengendalian infeksi di tingkat
komunitas.
Description
Reupload Repositori File 09 Juni 2026_Kholif Basri
