Hubungan Tingkat Keparahan Penyakit dengan Lama Rawat Inap Pasien Cedera Otak Traumatik di Ruang ICU RSD dr. Soebandi Jember

dc.contributor.authorKamila Aulia Safitri
dc.date.accessioned2026-01-27T02:01:11Z
dc.date.issued2025-01-16
dc.descriptionReupload file repositori 27 januari 2026_Kurnadi
dc.description.abstractKejadian cedera otak traumatik diperkirakan terjadi sebanyak 500.000 kasus pertahunnya di Amerika Serikat dengan 80% karena cedera otak traumatik ringan, 10% karena cedera otak traumatik sedang, dan 10% karena cedera otak traumatik berat. Menurut data dari Riskesdas 2018, insiden cedera otak traumatik karena kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai 11,9%. Jawa Timur memiliki angka kejadian cedera otak traumatik akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 11,12%. Secara umum, pasien yang dirawat di rumah sakit dengan cedera otak traumatik mengalami lama rawat inap di rumah sakit yang jauh lebih lama dibandingkan dengan pasien trauma dengan usia dan jenis kelamin yang sama dengan diagnosis berbeda (Yue et al., 2022). Lama rawat inap yang panjang di ICU menyebabkan biaya tinggi yang berdampak pada kematian serta hasil akhir yang buruk (Setareh et al., 2021). Selain itu, masa tinggal di ICU yang berkepanjangan juga dikaitkan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas serta dapat meningkatkan risiko infeksi (Takekawa et al., 2022). Tingkat keparahan penyakit merupakan indikator utama yang dapat mempengaruhi lama rawat inap dan hasil akhir pasien. Skor Evaluasi Fisiologi Akut dan Kesehatan Kronis (APACHE II) merupakan salah satu skor penyakit kritis yang banyak digunakan dalam perawatan intensif dan didasarkan pada nilai fisiologis obyektif dari variabel yang diukur selama perawatan. Skor APACHE II memberikan gambaran kondisi pasien sebelum masuk ke unit perawatan intensif, serta gambaran hasil akhir pasien dan lama rawat inap (Mohebi et al., 2018). APACHE II berfungsi sebagai indikasi peringatan kematian dini dan mendorong tenaga kesehatan untuk meningkatkan protokol pengobatan, menjadikannya alat yang berguna untuk prediksi klinis kematian pasien di ICU. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan tingkat keparahan penyakit dengan lama rawat inap pasien cedera otak traumatik di ruang ICU RSD dr. Soebandi Jember. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional dengan metode pengambilan data secara restospektif pada pasien dengan cedera otak traumatik. Teknik sampling yang digunakan yaitu total sampling dan didapatkan data sebanyak 86 pasien yang pernah dirawat di ruang ICU pada Januari 2019-Oktober 2023. Peneliti menggunakan data rekam medis pasien yang kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi spearman rho. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas pasien memiliki skor 5-9 sebanyak 18 pasien (20.9%). Mayoritas pasien memiliki lama rawat inap ≤ 5 hari sebanyak 59 pasien (68.6%). Hasil Uji korelasi Spearman rho didapatkan p value = 0.001 (<0.05) dengan nilai kekuatan korelasi antara kedua variabel yaitu 0.366 yang artinya kekuatan hubungan antara dua variabel bernilai cukup dengan arah korelasi positif yang berarti bahwa semakin tinggi nilai skor APACHE II, maka semakin lama hari rawat inap pada pasien cedera otak traumatik.
dc.description.sponsorshipDPU: Ns. Ruris Haristiani, S.Kep., M.Kes. DPA: Ns. Rismawan Adi Yunanto, S.Kep., M.Kep.
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/356
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Keperawatan
dc.subjectKeparahan Penyakit
dc.subjectCedera Otak Traumatik
dc.titleHubungan Tingkat Keparahan Penyakit dengan Lama Rawat Inap Pasien Cedera Otak Traumatik di Ruang ICU RSD dr. Soebandi Jember
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
KAMILA AULIA SAFITRI - 202310101092.pdf
Size:
1.66 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: