Eksplorasi Tumbuhan Paku sebagai Agen Antiinfeksi : Systematic Mapping Review
| dc.contributor.author | Shafira Ardelia | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-29T05:34:02Z | |
| dc.date.issued | 2026-07-07 | |
| dc.description | Validasi file repositori 29 Juli 2026_Firli | |
| dc.description.abstract | Penyakit infeksi masih menjadi salah satu tantangan utama dalam bidang kesehatan, baik di tingkat global maupun nasional. Di Indonesia, tercatat sekitar 9,2 juta kasus hepatitis, 627 ribu kasus tuberkulosis, dan 443 ribu kasus malaria. Selain itu, kandidiasis juga dilaporkan menginfeksi sekitar 20-25% populasi Indonesia. Tingginya jumlah kasus infeksi menunjukkan bahwa penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Berbagai strategi telah diterapkan untuk menekan angka kejadian penyakit infeksi, salah satunya melalui penggunaan agen antiinfeksi. Meskipun demikian, penggunaan agen antiinfeksi yang tidak rasional dapat memicu munculnya resistensi mikroorganisme, fenomena tersebut berkontribusi terhadap kurang lebih 1,27 juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Kondisi ini menyebabkan pilihan terapi menjadi semakin terbatas dan mendorong kebutuhan yang mendesak akan penemuan serta pengembangan agen antiinfeksi baru yang lebih efektif. Salah satu sumber daya alam yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber agen antiinfeksi adalah tumbuhan paku. Kelompok tumbuhan vaskular tertua ini telah bertahan selama 380-400 juta tahun dan memiliki karakteristik reproduksi yang berbeda dari tumbuhan berbiji karena menggunakan spora sebagai alat perkembangbiakan. Kemampuannya untuk beradaptasi terhadap berbagai tekanan lingkungan, baik yang berasal dari faktor biotik maupun abiotik, memungkinkan tumbuhan ini menghasilkan beragam metabolit sekunder dengan struktur kimia yang unik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa metabolit tersebut memiliki aktivitas biologis yang beragam, termasuk sebagai agen antiinfeksi. Contohnya adalah alkaloid lycodine, lycopodine, fawcettimine, dan phlegmarine, serta ent-kaurane diterpenoid juga pterosin-sesquiterpen yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan mekanisme yang berbedabeda. DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER ix Meskipun berbagai penelitian mengenai tumbuhan paku telah dilakukan selama beberapa dekade terakhir, kajian yang secara khusus membahas potensi antiinfeksi tumbuhan paku secara menyeluruh masih terbatas. Sebagian besar telaah pustaka yang tersedia hanya menyajikan informasi secara deskriptif tanpa pemetaan yang sistematis. Oleh karena itu, telaah pustaka ini dilakukan untuk menggambarkan secara umum penggunaan tumbuhan paku sebagai antiinfeksi dan menelusuri spesies tumbuhan paku yang potensial sebagai agen antiinfeksi secara sistematis dan komprehensif menggunakan metode Systematic Mapping Review. Penelusuran literatur yang dilakukan melalui basis data PubMed dan SciFinder menghasilkan sebanyak 4.638 artikel. Setelah melalui proses seleksi dan penyaringan berdasarkan pedoman PRISMA-P, diperoleh 179 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa penelitian mengenai aktivitas antiinfeksi tumbuhan paku telah dilakukan sejak tahun 1997 dan mencapai puncaknya pada tahun 2019. Sebagian besar penelitian berasal dari Tiongkok dan India, dengan total cakupan 126 spesies yang terdistribusi dalam 55 genus dan 26 famili. Famili yang paling banyak diteliti adalah Pteridaceae, Equisetaceae, dan Dryopteridaceae. Daun menjadi bagian tumbuhan yang paling sering digunakan sebagai sampel penelitian, sementara ekstrak merupakan bentuk sampel yang paling banyak diuji. Selain itu, metode pengujian yang dominan adalah in vitro. Dari keseluruhan spesies yang diteliti, sebanyak 29,3% menunjukkan aktivitas antiinfeksi yang potensial. Beberapa spesies yang menonjol antara lain Lycopodium complanatum sebagai spesies yang paling banyak menunjukkan aktivitas antibakteri, Selaginella bryopteris untuk aktivitas antifungi, Davallia mariesii untuk aktivitas antivirus, dan Pleopeltis crassinervata untuk aktivitas antiparasit. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama: Prof. apt.Ari Satia Nugraha, S.F.,GDipSc.,MSc-res.,PhD. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/12373 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Farmasi | |
| dc.subject | Tumbuhan Paku | |
| dc.subject | Agen Antiinfeksi | |
| dc.subject | Systematic Mapping Review | |
| dc.subject | Infeksi | |
| dc.title | Eksplorasi Tumbuhan Paku sebagai Agen Antiinfeksi : Systematic Mapping Review | |
| dc.type | Other |
Files
Original bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- Shafira Ardelia_Skripsi Final Unggah Repository.pdf
- Size:
- 2.18 MB
- Format:
- Adobe Portable Document Format
License bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- license.txt
- Size:
- 1.71 KB
- Format:
- Item-specific license agreed to upon submission
- Description:
