Eksplorasi Tumbuhan Paku sebagai Agen Antiinfeksi : Systematic Mapping Review
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Penyakit infeksi masih menjadi salah satu tantangan utama dalam bidang
kesehatan, baik di tingkat global maupun nasional. Di Indonesia, tercatat sekitar 9,2
juta kasus hepatitis, 627 ribu kasus tuberkulosis, dan 443 ribu kasus malaria. Selain
itu, kandidiasis juga dilaporkan menginfeksi sekitar 20-25% populasi Indonesia.
Tingginya jumlah kasus infeksi menunjukkan bahwa penyakit ini masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Berbagai strategi
telah diterapkan untuk menekan angka kejadian penyakit infeksi, salah satunya
melalui penggunaan agen antiinfeksi. Meskipun demikian, penggunaan agen
antiinfeksi yang tidak rasional dapat memicu munculnya resistensi
mikroorganisme, fenomena tersebut berkontribusi terhadap kurang lebih 1,27 juta
kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Kondisi ini menyebabkan pilihan terapi
menjadi semakin terbatas dan mendorong kebutuhan yang mendesak akan
penemuan serta pengembangan agen antiinfeksi baru yang lebih efektif.
Salah satu sumber daya alam yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai
sumber agen antiinfeksi adalah tumbuhan paku. Kelompok tumbuhan vaskular
tertua ini telah bertahan selama 380-400 juta tahun dan memiliki karakteristik
reproduksi yang berbeda dari tumbuhan berbiji karena menggunakan spora sebagai
alat perkembangbiakan. Kemampuannya untuk beradaptasi terhadap berbagai
tekanan lingkungan, baik yang berasal dari faktor biotik maupun abiotik,
memungkinkan tumbuhan ini menghasilkan beragam metabolit sekunder dengan
struktur kimia yang unik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa metabolit
tersebut memiliki aktivitas biologis yang beragam, termasuk sebagai agen
antiinfeksi. Contohnya adalah alkaloid lycodine, lycopodine, fawcettimine, dan
phlegmarine, serta ent-kaurane diterpenoid juga pterosin-sesquiterpen yang mampu
menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan mekanisme yang berbedabeda.
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
ix
Meskipun berbagai penelitian mengenai tumbuhan paku telah dilakukan
selama beberapa dekade terakhir, kajian yang secara khusus membahas potensi
antiinfeksi tumbuhan paku secara menyeluruh masih terbatas. Sebagian besar telaah
pustaka yang tersedia hanya menyajikan informasi secara deskriptif tanpa pemetaan
yang sistematis. Oleh karena itu, telaah pustaka ini dilakukan untuk
menggambarkan secara umum penggunaan tumbuhan paku sebagai antiinfeksi dan
menelusuri spesies tumbuhan paku yang potensial sebagai agen antiinfeksi secara
sistematis dan komprehensif menggunakan metode Systematic Mapping Review.
Penelusuran literatur yang dilakukan melalui basis data PubMed dan
SciFinder menghasilkan sebanyak 4.638 artikel. Setelah melalui proses seleksi dan
penyaringan berdasarkan pedoman PRISMA-P, diperoleh 179 artikel yang
memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa penelitian mengenai aktivitas
antiinfeksi tumbuhan paku telah dilakukan sejak tahun 1997 dan mencapai
puncaknya pada tahun 2019. Sebagian besar penelitian berasal dari Tiongkok dan
India, dengan total cakupan 126 spesies yang terdistribusi dalam 55 genus dan 26
famili. Famili yang paling banyak diteliti adalah Pteridaceae, Equisetaceae, dan
Dryopteridaceae. Daun menjadi bagian tumbuhan yang paling sering digunakan
sebagai sampel penelitian, sementara ekstrak merupakan bentuk sampel yang
paling banyak diuji. Selain itu, metode pengujian yang dominan adalah in vitro.
Dari keseluruhan spesies yang diteliti, sebanyak 29,3% menunjukkan aktivitas
antiinfeksi yang potensial. Beberapa spesies yang menonjol antara lain Lycopodium
complanatum sebagai spesies yang paling banyak menunjukkan aktivitas
antibakteri, Selaginella bryopteris untuk aktivitas antifungi, Davallia mariesii
untuk aktivitas antivirus, dan Pleopeltis crassinervata untuk aktivitas antiparasit.
Description
Validasi file repositori 29 Juli 2026_Firli
