Post Traumatic Stress Disorder pada Masyarakat Petani Penyintas Erupsi Gunung Semeru di Desa Penanggal Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

FAKULTAS KEPERAWATAN

Abstract

Kondisi geografis Indonesia yang berada pada jalur lempeng tektonik dunia menjadikannya sangat rentan terhadap bencana letusan gunung berapi, yang kerap menimbulkan kerugian material hingga dampak psikologis bagi penyintas. Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang memiliki rekam jejak erupsi panjang, kembali meletus pada 19 November 2025. Peristiwa ini mengakibatkan kerusakan masif pada infrastruktur publik, permukiman, dan ratusan hektare lahan pertanian, khususnya di wilayah Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Selain memicu pengungsian massal dan kerugian fisik, besarnya skala ancaman bencana tersebut berisiko tinggi memunculkan gangguan kesehatan serta tekanan psikologis pascatrauma bagi masyarakat terdampak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis post traumatic stress disorder pada masyarakat petani penyintas erupsi Gunung Semeru di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain exploratory study bersifat deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 172 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner post traumatic stress disorder Checklist for DSM-V PCL5. Selanjutnya, analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat untuk menghasilkan distribusi frekuensi, ukuran penyebaran, dan nilai rata-rata dari variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani penyintas erupsi Gunung Semeru di Desa Penanggal berada pada kategori usia paruh baya (rata-rata 48,65 tahun), berjenis kelamin laki-laki (64,0%), berstatus menikah (87,2%), bekerja sebagai buruh tani (56,4%), serta berpendidikan terakhir Sekolah Dasar DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER ix (51,2%). Berdasarkan pengukuran Post traumatic stress disorder (PTSD), sebagian besar responden mengalami gejala pada kategori sedang (59,3%), dengan total angka keterpaparan gejala mencapai 88,4%. Analisis per indikator menunjukkan bahwa negative alterations (perubahan negatif pada kognisi dan suasana hati) merupakan indikator yang paling dominan dialami oleh responden (58,1%), diikuti oleh hyperarousal (peningkatan keterjagaan), re-experiencing (pengalaman kembali trauma), dan avoidance (penghindaran). Temuan ini mengindikasikan bahwa para petani penyintas masih mengalami dampak psikologis yang signifikan pasca-bencana, yang menuntut adanya intervensi kesehatan mental berkelanjutan di wilayah terdampak.

Description

Finalisasi Juli 2026 hasyim

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By