Peran Perempuan Pribumi Dalam Perfilman di Hindia-Belanda Tahun 1926-1942
| dc.contributor.author | Dwi Nur Rahayu | |
| dc.date.accessioned | 2026-09-16T00:18:47Z | |
| dc.date.issued | 2026-07-07 | |
| dc.description | Validasi dan Finalisasi Repositori File 16 September 2026_Kholif Basri | |
| dc.description.abstract | Penelitian ini membahas peran perempuan pribumi dalam perfilman Hindia Belanda 1926–1942. Kajian ini bertujuan menjelaskan latar belakang keterlibatan perempuan pribumi dalam industri film serta dampak sosial dan budayanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan poskolonial dan teori subaltern. Metode yang digunakan metode sejarah melalui heuristik, kritik sumber, interpretasi, serta historiografi berbasis arsip dan literatur. Hasil penelitian menunjukkan peran perempuan pribumi dalam perfilman di latarbelakangi oleh dominasi budaya patriarki, masuknya pendidikan Barat melalui pelaksanaan politik etis, serta pengaruh seni pertunjukan, seperti komedi stamboel dan pertunjukan tradisional, yang menjadi ruang awal partisipasi perempuan di ranah publik sebelum memasuki dunia film. Peran perempuan pribumi dalam perfilman di Hindia Belanda berkembang melalui tiga periode. Pada tahun 1926–1930, peran perempuan pribumi masih terbatas karena industri perfilman berada pada tahap awal sehingga kesempatan menjadi aktris belum terbuka luas. Pada tahun 1931 1936, keterlibatan perempuan pribumi menurun akibat krisis ekonomi yang melemahkan industri perfilman di Hindia-Belanda serta dominasi perusahaan film milik etnis Tionghoa. Memasuki tahun 1937–1942, industri perfilman mulai pulih sehingga membuka kesempatan yang lebih besar bagi perempuan pribumi untuk berkarier sebagai aktris. Perkembangan tersebut tercermin dari hadirnya Roekiah sebagai pemeran utama film Terang Boelan. Sebelum terjun ke dunia perfilman, Roekiah telah berpengalaman sebagai pemain sandiwara dalam kelompok Komedi Stamboel. Pengaruh keterlibatan perempuan pribumi dalam industri perfilman tampak pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat Hindia-Belanda, terutama melalui perubahan representasi perempuan di layar lebar serta pandangan masyarakat terhadap kedudukan perempuan. Perempuan pribumi tidak lagi hanya tampil sebagai pemeran figuran, tetapi juga sebagai tokoh utama yang berperan penting dalam narasi film. Kata Kunci : Indische actrice, peran perempuan, terang boelan, Roekiah, koloniale film. | |
| dc.description.sponsorship | Suharto, S.S., M.A. | |
| dc.identifier.other | Kholif Basri | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/14929 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Budaya | |
| dc.subject | Indische Actrice | |
| dc.subject | peran perempuan | |
| dc.subject | Terang Boelan | |
| dc.subject | Roekiah | |
| dc.subject | Koloniale Film | |
| dc.title | Peran Perempuan Pribumi Dalam Perfilman di Hindia-Belanda Tahun 1926-1942 | |
| dc.title.alternative | The Role Of Indigenous Women in Dutch East Indies Cinema from 1926-1942 | |
| dc.type | Other |
