Optimasi Solid Self Nanoemulsifying Drug Delivery System (S-SNEDDS) Kuersetin Berdasarkan Evaluasi Kinerja Redispersi dan Profil Disolusi In Vitro
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Kuersetin merupakan senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas
antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, dan antivirus. Namun, pemanfaatannya
secara oral masih terbatas karena memiliki kelarutan dan bioavailabilitas yang
rendah. Salah satu pendekatan untuk meningkatkan performa disolusi kuersetin
adalah Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS). Meskipun
demikian, SNEDDS dalam bentuk cair memiliki keterbatasan berupa stabilitas fisik
yang rendah serta kesulitan dalam penyimpanan dan penanganan. Oleh karena itu,
dilakukan pengembangan menjadi Solid Self-Nanoemulsifying Drug Delivery
System (S-SNEDDS) menggunakan kombinasi adsorben Aerosil-200 dan Avicel
pH-102.
Penelitian ini bertujuan mengoptimasi formulasi S-SNEDDS kuersetin
berdasarkan evaluasi kemampuan redispersi dan profil disolusi in vitro
menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD) dengan bantuan perangkat
lunak Design Expert. Variabel bebas penelitian adalah rasio Aerosil-200 dan Avicel
pH-102, sedangkan respon yang diamati meliputi drug content, ukuran droplet
setelah redispersi, Redispersibility Index (RDI), persen obat terlepas pada menit ke30 (Q-30), dan Efisiensi Disolusi selama 30 menit (DE-30).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi rasio Aerosil-200 dan Avicel
pH-102 berpengaruh terhadap karakteristik redispersi dan profil disolusi SSNEDDS kuersetin. Analisis Simplex Lattice Design menunjukkan bahwa drug
content tidak dipengaruhi secara signifikan oleh variasi komposisi adsorben (p >
0,05), sedangkan ukuran droplet, redispersibility index, Q-30, dan DE-30
dipengaruhi secara signifikan (p < 0,05). Peningkatan proporsi Avicel pH-102
menghasilkan ukuran droplet yang lebih kecil, nilai RDI yang lebih mendekati
kondisi awal serta meningkatkan nilai Q-30 dan DE-30. Sebaliknya, peningkatan
proporsi Aerosil-200 cenderung menghasilkan ukuran droplet yang lebih besar dan
menurunkan performa disolusi.
Optimasi menggunakan pendekatan desirability function menghasilkan
formula optimum dengan komposisi Aerosil-200 : Avicel pH-102 = 0,25 : 0,75 dan
nilai desirability sebesar 0,894. Formula optimum diprediksi menghasilkan drug
content 105,36%, ukuran droplet 142,40 nm, Redispersibility Index 91,46%, Q-30
sebesar 98,16%, dan DE-30 sebesar 69,84%. Formula optimum tersebut sesuai
dengan Formula 5. Verifikasi formula optimum tidak dilakukan karena
keterbatasan waktu penelitian.
Karakterisasi Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan
terbentuknya matriks padat dengan morfologi tidak beraturan yang didominasi
struktur Avicel pH-102, sedangkan analisis Fourier Transform Infrared
Spectroscopy (FTIR) menunjukkan tidak adanya gugus fungsi baru sehingga
pembentukan S-SNEDDS berlangsung melalui interaksi fisik tanpa perubahan
struktur kimia kuersetin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Avicel pH-102
berperan lebih dominan dibandingkan Aerosil-200 dalam menghasilkan
karakteristik redispersi dan profil disolusi S-SNEDDS kuersetin yang optimal.
Description
Validasi file repositori 27 Oktober 2026_Firli
