Identifikasi Aroma Kopi Robusta Wilayah Banyuwangi Berdasarkan Pola Respon Menggunakan Sensor Gas Array
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Indonesia merupakan negara eksportir kopi terbesar di dunia bersama
Brazil, Kolombia dan Vietnam. Indonesia memiliki aneka ragam jenis kopi yang
mempunyai aroma khas yang berbeda-beda, salah satunya yaitu kopi robusta.
Salah satu kota penghasil kopi terbesar di Jawa Timur yaitu Banyuwangi.
Perkebunan kopi di wilayah Banyuwangi diantaranya kebun kopi Malangsari,
kebun Kalipuro, Kebun Kalibendo, Kebun Glen Falloch Kalibaru dan kebun
Gunung Trisno. Kopi mempunyai karakteristik aroma yang berbeda dari satu jenis
kopi dengan yang lainnya karena adanya beberapa senyawa volatil dalam
kandungan kopi. Aroma kopi dapat diidentifikasi secara organoleptis oleh seorang
coffee taster, namun hal tersebut mempunyai kelemahan apabila kesehatannya
terganggu maka hasil identifikasi menjadi kurang akurat, sehingga dapat
digunakan sistem elektronik yang dapat mengidentifikasi aroma kopi yaitu dengan
sensor gas yang menyerupai fungsi indra penciuman yang disebut electronic nose.
Penelitian e-nose dilakukan untuk mengetahui karakteristik pola respon
gas sensor berdasarkan aroma. Aroma kopi dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya yaitu ukuran partikel dari bubuk kopi, suhu penyeduhan dan
volume air yang digunakan ketika penyeduhan. Suhu penyeduhan optimum agar
aroma kopi mengeluarkan respon sensor yang tinggi adalah 95°C dengan ukuran
partikel 50-60 mesh. Perbandingan massa bubuk kopi dengan volume air yang
digunakan yaitu 1:15 yang setara dengan 3 gram banding 45 mL air. Sampel kopi
ketika diseduh akan mengeluarkan gas kimia yang bersifat volatil sehingga
detektor dari sensor dapat mendeteksi gas tersebut. Gas yang dihasilkan akan
teradsorbsi dan berinteraksi dengan permukaan sensor sehingga akan menurunkan
resistansi dan mempengaruhi respon sensor yang dihasilkan menjadi
meningkatnya nilai konduktivitas. Nilai konduktivitas yang diperoleh akan
dikonversi oleh Arduino agar dapat dibaca oleh komputer menjadi data output
berupa tegangan. Identifikasi aroma kopi ini menggunakan 8 unit sensor gas jenis MQ (MQ
136, MQ-135, MQ-3, MQ-6, MQ-7, MQ-8, MQ-9 dan MQ-2) yang telah disusun
secara array. Nilai tegangan yang diperoleh dari masing-masing sensor tergantung
dari sensitifitas terhadap gas yang dikeluarkan oleh sampel uap kopi. Berdasarkan
data yang diperoleh terdapat tiga pola respon kopi yang berbeda yaitu kopi
Malangsari, kopi Glen Falloch dan kopi Gunung Trisno dan terdapat dua kopi
yang mebghasilkan pola yang hampir sama namun memiliki nilai tegangan yang
berbeda, yaitu kopi Kalibendo dan Kopi Kalipuro. Perbedaan pola respon tersebut
didukung oleh analisa PCA. Terdapat empat kelompok kopi dari lima sampel kopi
yang ada di wilayah Banyuwangi. Sampel kopi Malangsari, Glen Falloch dan
Gunung Trisno terletak pada kuadran yang berbeda, sedangkan kopi Kalipuro dan
Kalibendo terletak pada kuadran yang sama. Meskipun mempunyai pola respon
yang hampir sama dan terletak pada kuadran yang sama, kopi Kalibendo dan
Kalipuro mempunyai kuantitas yang berbeda dibuktikan dengan uji ANOVA.
Hasil yang diperoleh dari uji ANOVA yaitu nilai Fhitung lebih besar dibanding
dengan nilai dari Ftabel dan nilai P-value < 0,05, sehingga dapat disimpulkan
bahwa kopi Kalibendo dan Kalipuro berbeda signifikan.
Description
Reupload Repositori File 18 Mei 2026_Kholif Basri
Validasi file repositori 11 Juni 2026_Dea_Firli
