Analisis Hubungan Lama Ketuban Pecah Dini Ibu Hamil Aterm dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan salah satu komplikasi obstetri yang hingga
saat ini masih menjadi permasalahan dalam pelayanan kesehatan maternal.
Kondisi ini terjadi ketika selaput ketuban pecah sebelum adanya tanda-tanda
persalinan, baik pada kehamilan aterm maupun preterm. Secara fisiologis, ketuban
berperan penting dalam melindungi janin dari infeksi, memberikan ruang gerak
yang optimal, serta menjaga kestabilan lingkungan intrauterin. Apabila ketuban
pecah sebelum waktunya, kondisi ini dapat mengganggu homeostasis janin dan
meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi, salah satunya adalah asfiksia
neonatorum. Risiko komplikasi tersebut diketahui berkaitan erat dengan lamanya
ketuban pecah berlangsung sebelum persalinan terjadi. Semakin lama KPD,
semakin besar kemungkinan terjadinya infeksi intrauterin, oligohidramnion,
kompresi tali pusat, hingga gangguan suplai oksigen ke janin yang pada akhirnya
dapat menyebabkan asfiksia. Meskipun demikian, hingga kini masih terdapat
variasi dalam standar penanganan KPD, termasuk perbedaan panduan waktu
evaluasi dan intervensi. Beberapa studi menyatakan bahwa evaluasi dan
penanganan KPD sebaiknya mulai dipertimbangkan sejak 12 jam setelah ketuban
pecah, guna mencegah peningkatan risiko komplikasi. Namun, data mengenai
hubungan lama KPD dan kejadian asfiksia neonatorum, khususnya di tingkat
daerah seperti Kabupaten Jember, masih terbatas sehingga memerlukan penelitian
lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk menganalisis hubungan lama
ketuban pecah dini dengan kejadian asfiksia neonatorum pada kehamilan aterm di
RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember. Dengan memahami hubungan tersebut,
diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar pertimbangan dalam pengambilan
keputusan klinis terkait tata laksana KPD, khususnya dalam menentukan waktu
intervensi yang tepat untuk meminimalkan risiko komplikasi neonatal seperti
asfiksia. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
pendekatan potong lintang (cross-sectional). Data yang digunakan adalah data
sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien di RSD dr. Soebandi Kabupaten
Jember. Subjek penelitian adalah ibu hamil dengan kehamilan aterm, yaitu lebih
dari 36 minggu, yang mengalami ketuban pecah dini dan memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling
dengan jumlah sampel minimal 72 subjek yang dibagi ke dalam dua kelompok
berdasarkan lama ketuban pecah, yaitu kurang dari 12 jam dan 12 jam atau lebih.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lama ketuban pecah dini, sedangkan
variabel terikat adalah kejadian asfiksia neonatorum yang ditentukan berdasarkan
skor APGAR pada menit pertama. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi
square untuk melihat hubungan antara kedua variabel tersebut. Pada penelitian ini,
didapatkan sebanyak 3 ibu dengan lama KPD < 12 jam mengalami asfiksia
neonatorum, dan 29 ibu dengan KPD <12 jam diikuti dengan bayi yang tidak
mengalami asfiksia. Ibu dengan KPD ≥12 jam yang diikuti dengan asfiksia
neonatorum dalam penelitian ini ditemukan sebanyak 21 orang, sedangkan yang
tidak diikuti asfiksia neonatorum sebanyak 19 orang. Temuan dalam penelitian ini
dianalisis dengan uji statistik chi-square dan menunjukkan nilai p = 0,001 (<0,005)
yang mengindikasikan adanya hubungan antara lama KPD dengan kejadian
asfiksia neonatorum. Ketuban pecah dini yang berkepanjangan dapat
menimbulkan terjadinya oligohidroamnion maupun meningkatkan risiko infeksi
sistemik pada fetus yang dapat menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum.
Description
Finalisasi_Maya_4 Juni 2026
