Konstruksi Makna Penggunaan Sound System dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Desa Sumbersewu Banyuwangi
| dc.contributor.author | Didit Kurniawan Wintoko | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-04T01:45:00Z | |
| dc.date.issued | 2025-12-09 | |
| dc.description | Reupload Repositori File 04 Juni 2026_Kholif Basri Validasi file repositori 3 Juni 2026_Dea_Firli | |
| dc.description.abstract | Wilayah Indonesia secara umum dikenal kaya akan keragaman budaya dan tradisi yang menjadi ciri khas setiap daerah. Jika merujuk pada Desa Sumbersewu yang berada di kecamatan Muncar kabupaten Banyuwangi, yang kental akan keanekaragaman budaya dengan masyarakat beragama Islam dan Hindu yang hidup berdampingan. Sehingga Desa Sumbersewu sendiri memiliki berbagai budaya dan tradisi yang unik berkaitan dengan nilai-nilai agama. Perayaan tradisi keagamaan di Desa Sumbersewu juga berkembang mengikuti zaman. Berbagai bentuk perayaan hari besar kegamaan baik Islam dan Hindu, masyarakat Desa Sumbersewu selalu memeriahkannya dengan penuh rasa toleransi melalui pertunjukan dan karnaval sound system. Seiring dengan semakin luasnya penggunaan sound system, masyarakat di Desa Sumbersewu, Banyuwangi menjadikan sound system menjadi bagian budaya dari kehidupan sehari-hari seperti dalam acara tradisi, keagamaan, hingga kegiatan hiburan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konstruksi makna penggunaan sound system dalam kegiatan keagamaan di Desa Sumbersewu, Kab.Banyuwangi. Teori yang digunakan adalah teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, penggunaan sound system dalam kegiatan tradisi dan budaya masyrakat memunculkan makna tertentu yang mengarah pada pembentukan identitas budaya dengan masyarakat. Penggunaan sound system dalam kegiatan tradisi keagamaan ini mengalami proses konstruksi sosial melalui tiga tahapan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian ini di Desa Sumbersewu Kabupaten Banyuwangi. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dengan para tokoh masyarakat ataupun warga yang terlibat langsung di setiap kegiatan keagaman. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan metode triangulasi untuk keabsahan data yang di peroleh. Data yang diperoleh dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari peneitian ini adalah ditemukannya pemaknaan baru terhadap penggunaan sound system. Bukan hanya sekadar perangkat teknologi, melainkan juga simbol pengikat sosial yang memperkuat identitas bersama serta menumbuhkan harmoni dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Praktik ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai tradisional masyarakat pedesaan tetap relevan meskipun berpadu dengan unsur modernitas. Sound system, yang pada awalnya mungkin hanya dipandang sebagai alat teknis, kini memiliki dimensi sosial yang lebih luas, yakni sebagai medium untuk mempererat hubungan antar warga, serta menumbuhkan rasa toleransi antar umat beragama. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama : Dr. Dodik Harnadi S.H.I., M.Sosio Dosen Pembimbing Anggota: -- | |
| dc.identifier.issn | Kholif Basri | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/7947 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik | |
| dc.subject | Wilayah Indonesia | |
| dc.subject | kaya | |
| dc.subject | budaya | |
| dc.subject | dan tradisi | |
| dc.title | Konstruksi Makna Penggunaan Sound System dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Desa Sumbersewu Banyuwangi | |
| dc.type | Other |
