Konstruksi Makna Penggunaan Sound System dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Desa Sumbersewu Banyuwangi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Abstract
Wilayah Indonesia secara umum dikenal kaya akan keragaman budaya dan
tradisi yang menjadi ciri khas setiap daerah. Jika merujuk pada Desa Sumbersewu
yang berada di kecamatan Muncar kabupaten Banyuwangi, yang kental akan
keanekaragaman budaya dengan masyarakat beragama Islam dan Hindu yang hidup
berdampingan. Sehingga Desa Sumbersewu sendiri memiliki berbagai budaya dan
tradisi yang unik berkaitan dengan nilai-nilai agama. Perayaan tradisi keagamaan di
Desa Sumbersewu juga berkembang mengikuti zaman. Berbagai bentuk perayaan
hari besar kegamaan baik Islam dan Hindu, masyarakat Desa Sumbersewu selalu
memeriahkannya dengan penuh rasa toleransi melalui pertunjukan dan karnaval
sound system. Seiring dengan semakin luasnya penggunaan sound system,
masyarakat di Desa Sumbersewu, Banyuwangi menjadikan sound system menjadi
bagian budaya dari kehidupan sehari-hari seperti dalam acara tradisi, keagamaan,
hingga kegiatan hiburan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konstruksi
makna penggunaan sound system dalam kegiatan keagamaan di Desa Sumbersewu,
Kab.Banyuwangi. Teori yang digunakan adalah teori konstruksi sosial yang
dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, penggunaan sound
system dalam kegiatan tradisi dan budaya masyrakat memunculkan makna tertentu
yang mengarah pada pembentukan identitas budaya dengan masyarakat.
Penggunaan sound system dalam kegiatan tradisi keagamaan ini mengalami proses
konstruksi sosial melalui tiga tahapan, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan
internalisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan
fenomenologi. Lokasi penelitian ini di Desa Sumbersewu Kabupaten Banyuwangi.
Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Data dalam
penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dengan
para tokoh masyarakat ataupun warga yang terlibat langsung di setiap kegiatan
keagaman. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan metode
triangulasi untuk keabsahan data yang di peroleh. Data yang diperoleh dianalisis
dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil dari peneitian ini adalah ditemukannya pemaknaan baru terhadap
penggunaan sound system. Bukan hanya sekadar perangkat teknologi, melainkan
juga simbol pengikat sosial yang memperkuat identitas bersama serta
menumbuhkan harmoni dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Praktik ini
memperlihatkan bahwa nilai-nilai tradisional masyarakat pedesaan tetap relevan
meskipun berpadu dengan unsur modernitas. Sound system, yang pada awalnya
mungkin hanya dipandang sebagai alat teknis, kini memiliki dimensi sosial yang
lebih luas, yakni sebagai medium untuk mempererat hubungan antar warga, serta
menumbuhkan rasa toleransi antar umat beragama.
Description
Reupload Repositori File 04 Juni 2026_Kholif Basri
Validasi file repositori 3 Juni 2026_Dea_Firli
