Gambaran Status Gizi Pada Petani Dengan Tuberkulosis Di Wilayah Pertanian Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakultas keperawatan
Abstract
Indonesia merupakan negara agraris yang mana penduduknya bermata
pencaharian petani. Petani berisiko tertular penyakit tuberkulosis jika dilihat dari
kemungkinan tingkat keterpaparan, lingkungan kerja, ekonomi dan sosial.
Tuberkulosis rentan menular pada petani, hal ini diakibatkan karena berbagai faktor
antara lain kondisi ekonomi yang rendah, ruang lingkup yang sesak, sanitasi yang
tidak memadai, dan kurangnya akses terhadap fasilitasi kesehatan. Selain itu,
tuberkulosis sering kali dikaitkan dengan penurunan status gizi yang buruk.
Tuberkulosis dan penurunan status gizi memiliki hubungan dua arah yang artinya
tuberkulosis dapat menyebabkan penurunan status gizi dan status gizi dapat
meningkatkan risiko berkembangnya tuberkulosis aktif yakni sebesar 6 hingga 10
kali lipat. Penderita dapat mengalami status gizi buruk jika tidak diimbangi dengan
diet yang sesuai. Seseorang dengan status gizi buruk mengalami gejala lebih parah
dan tingkat kesembuhan lebih rendah serta perlunya memperhatikan status gizi
karena dapat mempengaruhi fungsi individu dan kesehatan secara keseluruhan.
Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran status gizi
pada petani dengan tuberkulosis. Desain penelitian ini yaitu metode kuantitatif,
penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian
ini yaitu petani dengan tuberkulosis dengan usia produktif sebanyak 120 orang.
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner karakteristik
responden, indeks massa tubuh, dan kuesioner FFQ untuk mengetahui frekuensi
konsumsi bahan makanan zat gizi yang dikonsumsi oleh responden. Analisis data
menggunakan analisis univariat yaitu deskriptif analitik. Peneliti melakukan uji
kelaikan etik di Fakultas Keperawatan Universitas Jember.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata usia petani yaitu 47,80
tahun dengan petani laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan yang
mayoritas pendidikan terakhir jenjang SD, fase pengobatan dominan pada fase lanjutan, riwayat pengobatan dominan pada pasien kasus baru. Status gizi kurang
sebanyak 56 orang (46,7%), gizi normal sebanyak 55 orang (45,8%), gizi berlebih
sebanyak 9 orang (7,5%), dan tidak ada yang mengalami obesitas. Frekuensi asupan
bahan makanan zat gizi yang dikonsumsi oleh petani dengan tuberkulosis yakni
pada kategori tidak pernah mengonsumsi roti, bubur, kentang, keju, mentega,
coklat, apel, anggur, dan jus buah. Kategori jarang yaitu mie, daging sapi, daging
ayam, kacang, jeruk, pisang, kangkung, dan brokoli. Kategori sering yaitu nasi, ikan
goreng, tahu, tempe, wortel, bayam, kol, dan jamur. Kesimpulan penelitian ini yaitu
lebih banyak berkategori status gizi kurang yang disebabkan oleh pendidikan yang
rendah, fase pengobatan, dan asupan makanan yang tidak seimbang. Oleh karena
itu, pemantauan status gizi dan pengaturan konsumsi pangan di kalangan petani
harus dilakukan secara rutin setiap bulannya.
Description
Reupload file repository 12 februari 2026_agus/feren
