Ensemble Model ARIMA dan GSTAR pada Peramalan Curah Hujan Menggunakan Kalman Filter
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Dalam penelitian ini data yang digunakan dibagi menjadi empat kelompok
berdasarkan pengelompokan dari BPS dan pengelompokan dengan menggunakan
algoritma K-Means. Berdasarkan pengelompokan ini, nantinya akan diperoleh
model peramalan terbaik dari masing-masing kelompok. Model tersebut yang
nantinya akan digunakan sebagai fitting model pada peramalan Super-Ensemble
Kalman Filter. Pada model ARIMA dan GSTAR data yang digunakan dalam
peramalan harus stasioner dalam mean dan varians, dimana pola data tidak
mengalami perubahan yang signifikan.
Model ARIMA yang diperoleh dari masing-masing kluster akan dipilih
model terbaik dan diperoleh Y, 1Y, 2Y dan 3Y yang menunjukkan model ARIMA
(A1) terbaik pada kluster 1, kluster 2, kluster 3 dan kluster 4. Model terbaik 4
ARIMA (A1) pada kluster pertama (4,0,4), kluster kedua (3,0,1), kluster ketiga
(2,0,3) dan kluster keempat (2,0,5). Model ini yang nantinya akan digunakan
sebagai fitting model dalam Kalman Filter. Sedangkan untuk Model ARIMA (A2)
nantinya akan digunakan sebagai pembanding hasil peramalan dengan SuperEnsemble
Kalman Filter. Berdasarkan nilai AIC diperoleh model terbaik untuk
ARIMA (A2) pada kluster 1 adalah ARIMA (4,0,4), Kluster 2 ARIMA ( 4,0,2),
kluster 3 ARIMA (2,0,3) dan pada kluster 4 ARIMA (3,0,2). Sedangkan untuk
model GSTAR pembagian kluster dilakukan dengan menggunakan algoritma KMeans.
Dari penelitian sebeumnya diperoleh empat model ditiap klusternya.
Pada metode Super-Ensemble Kalman Filter ini akan menggabungkan
model ARIMA dan GSTAR untuk melakukan peramalan curah hujan pada suatu
periode waktu tertentu di Kabupaten Jember yang telah dibagi menjadi empat
wilayah. Langkah awal pada metode Super-Ensemble Kalman Filter adalah
dengan menentukan nilai awal atau dalam komputasi disebut dengan iterasi ke-0,
dimana iterasi ke-0 adalah kondisi yang diperlukan untuk menentukan kondisi
pada tahap berikutnya. Penentuan nilai awal pada metode Super-Ensemble
Kalman Filter berupa asumsi suatu nilai yaitu nilai rata-rata maupun prediksi
awal. Penentuan nilai awal dilakukan pada nilai dari bobot vektor, dimana nilai
awal yang digunakan adalah nilai random.
Pada metode Super-Ensemble Kalman Filter ini, proses Kalman Filter
hanya dilakukan pada bobot vektor waktu saja untuk memperoleh nilai bobot
vektor waktu selama 12 kali data pengamatan. Selanjutnya dilakukan proses
penyesuaian hasil estimasi dengan data pengamatan dimana nilai tersebut
merupakan nilai sebenarnya sehingga akan dihasilkan perbaikan estimasi. Proses
perbaikan estimasi ini dalam Kalman Filter biasa disebut dengan Kalman Gain.
Kalman Gain berperan dalam meminimalisasi norm kovarian error pada proses
estimasi. Pada bagian ini diperoleh nilai norm kovarians error semakin mengecil
hingga iterasi terakhir. Selain itu juga dilakukan peramalan ARIMA (A2).
Berdasarkan hasil peramalan dari keduanya, diperoleh kesimpulan bahwa
peramalan menggunakan metode Kalman Filter menghasilkan nilai Root Mean
Square Error (RMSE) yang lebih kecil dibandingkan dengan peramalan
menggunakan model A2. Hal ini menunjukkan bahwa metode Super-Ensemble
Kalman Filter lebih baik daripada model ARIMA (A2) untuk peramalan curah
hujan di Kabupaten Jember. Diperoleh kesimpulan bahwa super-Ensemble
Kalman Filter dapat digunakan sebagai metode peramalan curah hujan di
Kabupaten Jember dengan menggunakan model ARIMA dan GSTAR sebagai
fitting model.
Description
upload by Teddy_6/2/2026
