Representasi Nilai-Nilai moral dalam Novel Almost is Never Enough karya Sefryana Khairil dan Film Dear Jo Karya Sutradara Monty Tiwa: Kajian Ekranisasi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Latar belakang kajian ini berkaitan dengan transformasi digital yang
menghadirkan peluang baru dalam publikasi karya tulis, serta meningkatnya minat
terhadap sastra dan film yang mendorong maraknya adaptasi novel ke bentuk film.
Novel Almost is Never Enough karya Sefryana Khairil merupakan salah satu karya
yang diadaptasi ke dalam bentuk film dengan judul Dear Jo, yang disutradarai oleh
Monty Tiwa. Meskipun ada perbedaan judul, baik novel maupun film tersebut
sama-sama memuat nilai-nilai moral yang tercermin melalui gaya kepenulisan
Sefryana Khairil dan sentuhan kreatif dari Monty Tiwa.
Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antarunsur struktural
dalam karya sastra, menguraikan proses ekranisasi yang terjadi, serta
mengidentifikasi nilai-nilai moral yang terkandung dalam karya tersebut. Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek material dalam penelitian ini
adalah novel Almost is Never Enough karya Sefryana Khairil dan film Dear Jo yang
disutradarai oleh Monty Tiwa. Adapun objek formal dalam penelitian ini yaitu
keterkaitan antarunsur struktural dan perubahan-perubahan dari novel ke film yang
dikaji menggunakan teori ekranisasi, dengan teori bantu struktural dan teori
representasi sebagai landasan analisis. Satuan analisis yang digunakan meliputi
kutipan kalimat yang berasal dari novel dan gambar potongan film.
Hasil analisis struktural novel Almost is Never Enough menunjukkan bahwa
unsur tema, tokoh, latar, alur, dan konflik saling mendukung dalam membangun
cerita. Tema mayor dalam novel ini adalah perjuangan melawan rasa takut dan rasa
bersalah untuk membuka hati pada cinta yang baru, yang direpresentasikan melalui
tokoh utama, Aldebaran. Tokoh tambahan seperti Ella, Maura, Ben, Zoey, Livy, dan
Fern mendukung pengembangan tema minor, seperti kasih sayang ibu kepada anak,
nilai persahabatan, perempuan yang dirindukan, dan penolakan terhadap pernikahan. Konflik dalam novel didominasi tokoh utama, mencakup konflik
eksternal dengan tokoh lain serta konflik internal yang penuh pergolakan batin.
Latar tempat, waktu, dan sosial menggambarkan kehidupan masyarakat modern
dengan ciri teknologi, keberagaman budaya, dan kebebasan memilih jalan hidup.
Alur cerita mengalir dari kehilangan hingga penyelesaian, yang menegaskan
perkembangan karakter dan keputusan membentuk keluarga baru.
Hasil analisis ekranisasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa proses
adaptasi dari novel Almost is Never Enough karya Sefryana Khairil ke film Dear Jo
karya sutradara Monty Tiwa menimbulkan sejumlah perubahan pada aspek alat
penceritaan, tokoh, latar, dan alur. Perubahan tersebut meliputi penciutan,
penambahan, dan perubahan bervariasi. Penciutan dilakukan terhadap 16 tokoh, 6
latar tempat, dan 20 bagian alur untuk mengefisiensikan durasi dan
mempertahankan fokus cerita dalam ruang visual yang terbatas. Di sisi lain, film
menambahkan 11 tokoh baru, 7 latar tempat tambahan, dan 52 adegan untuk
memperkaya narasi dan interaksi antartokoh. Selain penciutan dan penambahan,
adaptasi ini juga menampilkan perubahan bervariasi terhadap unsur cerita, meliputi
9 variasi tokoh, 5 variasi latar, dan 12 variasi alur. Perubahan variasi ini mencakup
penyesuaian nama tokoh, profesi, karakterisasi, lokasi peristiwa, serta urutan
peristiwa. Contohnya, latar tempat yang semula berlatar Amerika Serikat diubah
menjadi Azerbaijan dalam versi film, dan nama tokoh utama disesuaikan dengan
judul film. Meskipun mengalami berbagai modifikasi, garis besar cerita tetap
terjaga dan divisualisasikan dengan baik dalam film. Nilai-nilai moral dalam novel
mengalami penyesuaian saat diadaptasi ke bentuk film, tetapi maknanya tetap
tersampaikan dengan jelas. Adaptasi ini membuka sudut pandang baru terhadap isu
ibu pengganti yang dianggap ekstrem, dengan menonjolkan sisi kemanusiaan
secara lebih nyata. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, pengorbanan, pantang
menyerah, dan kasih sayang tetap disampaikan secara efektif, meskipun melalui
cara penyampaian yang berbeda. Dengan demikian, proses ekranisasi tidak
menghilangkan inti pesan dalam novel, justru memperkuatnya melalui tampilan
visual yang lebih hidup dan mudah dipahami oleh penonton.
Description
Reupload File Repositori 5 Februari 2026_Yudi/Rega
