Literasi Keuangan Digital pada Womenpreneur di Kabupaten Banyuwangi
| dc.contributor.author | Lilik Sufiyah | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-19T00:44:07Z | |
| dc.date.issued | 2024-06-28 | |
| dc.description | Reupload file repository 19 februari 2026_Maya/Mita | |
| dc.description.abstract | Peran perempuan dalam bidang ekonomi telah mengalami perubahan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Perempuan semakin terlibat aktif dalam mengembangkan perekonomian.. Di Indonesia, peran perempuan di bidang ekonomi sebagai pengusaha dan mengembangkan bisnis sendiri jumlahnya terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (2022) sebanyak 64,5% persen dari total seluruh UMKM di Indonesia atau sekitar 37 juta UMKM dimiliki oleh perempuan dengan berbagai kegiatannya mencakup 60 persen dari PDB Indonesia dan diproyeksi pada tahun 2025 memiliki total nilai sebesar USD 35 miliar. Data tersebut menggambarkan perempuan di Indonesia khusunya womenpreneur memiliki peran yang strategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun di tengah kemajuan pengusaha-pengusaha perempuan, data mengenai pengelolaan keuangan belum berpihak pada perempuan. Di Indonesia, akses perempuan kepada keuangan lebih rendah daripada laki-laki, meskipun dalam hal pembuatan akun perbankan sudah diberikan kemudahan, namun dalam hal literasi keuangan indeks perempuan berada 4 persen di bawah laki-laki (Otoritas Jasa Keuangan, 2021). Sehingga dalam Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021-2025 perempuan menjadi salah satu sasaran prioritas peningkatan literasi keuangan dan inklusi keuangan. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana tingkat pemahaman literasi keuangan digital pada womenpreneur di Kabupaten Banyuwangi?; 2) Bagaimana praktik literasi keuangan digital pada womenpreneur di Kabupaten Banyuwangi? Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method yaitu kuantitatif deskriptif dan kualitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah model yang dikembangkan oleh Creswell yakni concurrent triangulation strategy. Concurrent triangulation adalah model penelitian yang menggabungkan antara kuantitatif dan kualitatif secara seimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pemahaman yang cukup baik tentang etika digital dengan 46.7% berada dalam kategori Sufficient Literate, meskipun terdapat kelompok yang masih kurang memahami aspek ini. Pada aspek budaya digital, sebagian besar responden berada dalam kategori Sufficient Literate (36.7%) dan Less Literate (33.3%), menunjukkan kebutuhan signifikan untuk peningkatan pemahaman tentang budaya digital. Safety digital menunjukkan hasil yang lebih positif dengan mayoritas responden (60%) memiliki literasi yang sangat baik, meskipun masih ada 26.7% yang memerlukan edukasi lebih lanjut. Digital Literacy Financial (DFL) memperlihatkan bahwa sebagian besar responden berada dalam kategori Well Literate (50%) dan Sufficient Literate (46.7%), menunjukkan pemahaman yang baik tentang produk dan layanan keuangan digital. Hanya satu responden yang masuk dalam kategori Less Literate, menandakan bahwa secara umum, literasi keuangan digital di kalangan womenpreneur di Banyuwangi cukup tinggi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk peningkatan literasi di beberapa area spesifik, terutama budaya digital dan keamanan digital, untuk membantu pengusaha perempuan lebih efektif dalam menggunakan teknologi digital dan mengatasi berbagai tantangan yang muncul. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Dr. Sukidin, M.Pd DPA: Dr. Mohamad Naim, M.Pd | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3569 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan | |
| dc.subject | Keuangan Digital | |
| dc.subject | Womenpreneur | |
| dc.title | Literasi Keuangan Digital pada Womenpreneur di Kabupaten Banyuwangi | |
| dc.type | Other |
