Model Konseptual Kepatuhan Pajak Sukarela pada Program Sipundiwangi dalam Perspektif Dynamic Governance
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Penelitian ini mengkaji model konseptual kepatuhan pajak sukarela pada Program
Sipundiwangi dalam perspektif Dynamic Governance. Sipundiwangi (Sistem
Pelaksanaan Undian Pajak Daerah di Banyuwangi) merupakan inovasi kebijakan
daerah yang digagas oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten
Banyuwangi sebagai respons terhadap paradoks fiskal, yaitu kesenjangan antara
capaian tata kelola pemerintahan yang diakui secara nasional dan tingkat
kemandirian fiskal yang masih rendah, dengan rasio Pendapatan Asli Daerah
sebesar 14–16 persen. Paradoks ini semakin diperumit oleh menurunnya
kepercayaan publik terhadap pengelolaan pajak daerah akibat viralnya isu kenaikan
Pajak Bumi dan Bangunan di daerah lain, serta ditemukannya ketidakpatuhan pajak
pada sejumlah restoran dalam sidak yang dilakukan pemerintah daerah. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data
dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan delapan informan yang
dipilih secara purposif, observasi non-partisipan pada kegiatan pengundian
Program Sipundiwangi dalam Car Free Day Kabupaten Banyuwangi, serta
dokumentasi terhadap dokumen kebijakan resmi dan sumber publik yang relevan.
Analisis data dilakukan menggunakan Soft Systems Methodology (SSM) melalui
enam tahapan analisis, mulai dari identifikasi situasi masalah hingga perumusan
model konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Sipundiwangi
beroperasi melalui kombinasi mekanisme gamifikasi berbasis poin dan undian
berhadiah, digitalisasi layanan pajak melalui platform Smartkampung dan sistem
perekam transaksi SIJAKAWANGI, serta kolaborasi multipihak yang melibatkan
pemerintah desa, instansi terkait, perbankan, dan pelaku usaha. Namun, program
masih menghadapi tantangan berupa sosialisasi yang belum merata, persepsi
ketidakadilan di kalangan wajib pajak, kesenjangan literasi digital, serta
ketergantungan pendanaan pada dana CSR pihak ketiga. Dalam perspektif Dynamic
Governance, kapabilitas thinking again muncul sebagai kapabilitas yang paling
dominan, tercermin dari pergeseran pendekatan pemungutan pajak yang semula
bersifat koersif menjadi lebih persuasif berbasis insentif. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa kepatuhan pajak sukarela terbentuk melalui interaksi tiga
elemen utama, yaitu culture sebagai fondasi organisasi, kapabilitas adaptif dengan
thinking again sebagai dimensi dominan, serta Program Sipundiwangi sebagai
instrumen kebijakan. Penelitian ini berkontribusi pada literatur inovasi kebijakan
fiskal daerah dengan menunjukkan bahwa Dynamic Governance dapat
dioperasionalkan secara spesifik untuk menjelaskan pembentukan kepatuhan pajak
sukarela melalui pendekatan kebijakan berbasis perilaku.
Description
Validasi dan Finalisasi Repositori File 25 Juni 2026_Kholif Basri
