Uji Ex Vivo dan In Silico Ekstrak Metanol Daun Cyclosorus parasiticus sebagai Antimalaria
| dc.contributor.author | Aisyah Safrina Firdauz | |
| dc.date.accessioned | 2026-03-25T04:14:48Z | |
| dc.date.issued | 2025-07-10 | |
| dc.description | Reaploud Repository 25 Maret_agus | |
| dc.description.abstract | Malaria merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina kepada manusia. Plasmodium falciparum menjadi spesies penyebab terbanyak malaria di Indonesia dengan total 200.519 kasus pada tahun 2023. Berbagai terapi telah dikembangkan untuk melawan malaria, namun semua kelas obat antimalaria termasuk artemisinin-based combination therapy (ACT) sebagai satu-satunya obat antimalaria yang masih efektif telah menunjukkan resistensi. Hal ini memperkuat urgensi pengembangan obat dan target reseptor antimalaria yang baru. Produk bahan alam, termasuk tanaman obat, telah digunakan secara tradisional untuk mengobati malaria. Beberapa spesies Pteridophyta (tumbuhan paku), seperti Diplazium esculentum, telah terbukti memiliki aktivitas antimalaria secara in silico, in vitro, ataupun in vivo. Cyclosorus parasiticus dengan genus Cyclosorus dan famili Thelypteridaceae termasuk dalam 20 famili dan genus yang paling sering digunakan sebagai obat. Spesies paku ini diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder dengan aktivitas antibakteri, antifungi, hingga antiinflamasi. Namun, potensinya sebagai antimalaria belum pernah dieksplorasi hingga saat ini. Berdasarkan latar belakang tersebut, pada penelitian ini dilakukan uji ex vivo terhadap Plasmodium berghei dan in silico molecular docking terhadap P. falciparum strain 3D7 pada ekstrak metanol daun C.parasiticus. Ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan bantuan pengadukan. Analisis profil metabolit dengan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) mengidentifikasi 214 senyawa meliputi 75 senyawa kontaminan, 89 metabolit primer, dan 50 metabolit sekunder. Sebanyak 50 metabolit sekunder tersebut digunakan sebagai ligan uji untuk dilakukan molecular docking terhadap protein target PfLDH (PDB ID : 1CET), PfSpdS (PDB ID : 2PT9), PfDHODH (PDB ID : 3I65), apPOL (PDB ID : 7SXL), serta PfMyoA dan KNX-002 (PDB ID : 8CDQ). Hasil ex vivo menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun C. parasiticus (100 μg/mL) menunjukkan potensi antimalaria dengan nilai inhibisi pertumbuhan parasit sebesar 56,83%. Sementara itu, uji in silico menunjukkan bahwa di antara ligan yang diuji, senyawa 2,7-Diphenyl-1,6-dioxopyridazino[4,5:2',3']pyrrolo[4',5'-d]pyridazine (29_CPL) memiliki afinitas tertinggi terhadap 1CET, 3I65, 7SXL, dan 8CDQ dan senyawa N-(4-Nitrophenyl)-1H-indol-3-amine (3_CPL) terhadap 2PT9 dengan nilai afinitas -10,5 hingga -11,0 kcal/mol, yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan klorokuin sebagai kontrol positif (-6,8 hingga -7,3 kcal/mol). Afinitas tinggi tersebut didukung oleh adanya interaksi hidrofobik, hidrogen, maupun van der Waals yang berkontribusi pada stabilitas kompleks ligan-protein. Studi tambahan berupa evaluasi kelayakan obat menunjukkan bahwa 49 dari 50 ligan uji telah memenuhi Lipinski’s Rule of Five sehingga layak dipertimbangkan sebagai senyawa kandidat obat oral. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama : Prof. apt. Ari Satia Nugraha, S.F., GdipSc., M.Sc., Ph.D | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/5514 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Farmasi | |
| dc.subject | Ex Vivo | |
| dc.subject | In Silico | |
| dc.subject | Ekstrak Metanol Daun | |
| dc.subject | Cyclosorus parasiticus | |
| dc.subject | Antimalaria | |
| dc.title | Uji Ex Vivo dan In Silico Ekstrak Metanol Daun Cyclosorus parasiticus sebagai Antimalaria | |
| dc.type | Other |
