Uji Ex Vivo dan In Silico Ekstrak Metanol Daun Cyclosorus parasiticus sebagai Antimalaria
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Malaria merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat mortalitas
dan morbiditas yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Plasmodium yang
ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina kepada manusia. Plasmodium falciparum
menjadi spesies penyebab terbanyak malaria di Indonesia dengan total 200.519
kasus pada tahun 2023. Berbagai terapi telah dikembangkan untuk melawan
malaria, namun semua kelas obat antimalaria termasuk artemisinin-based
combination therapy (ACT) sebagai satu-satunya obat antimalaria yang masih
efektif telah menunjukkan resistensi. Hal ini memperkuat urgensi pengembangan
obat dan target reseptor antimalaria yang baru. Produk bahan alam, termasuk
tanaman obat, telah digunakan secara tradisional untuk mengobati malaria.
Beberapa spesies Pteridophyta (tumbuhan paku), seperti Diplazium esculentum,
telah terbukti memiliki aktivitas antimalaria secara in silico, in vitro, ataupun in
vivo. Cyclosorus parasiticus dengan genus Cyclosorus dan famili Thelypteridaceae
termasuk dalam 20 famili dan genus yang paling sering digunakan sebagai obat.
Spesies paku ini diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder dengan
aktivitas antibakteri, antifungi, hingga antiinflamasi. Namun, potensinya sebagai
antimalaria belum pernah dieksplorasi hingga saat ini.
Berdasarkan latar belakang tersebut, pada penelitian ini dilakukan uji ex vivo
terhadap Plasmodium berghei dan in silico molecular docking terhadap P.
falciparum strain 3D7 pada ekstrak metanol daun C.parasiticus. Ekstraksi
menggunakan metode maserasi dengan bantuan pengadukan. Analisis profil
metabolit
dengan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS)
mengidentifikasi 214 senyawa meliputi 75 senyawa kontaminan, 89 metabolit
primer, dan 50 metabolit sekunder. Sebanyak 50 metabolit sekunder tersebut
digunakan sebagai ligan uji untuk dilakukan molecular docking terhadap protein
target PfLDH (PDB ID : 1CET), PfSpdS (PDB ID : 2PT9), PfDHODH (PDB ID :
3I65), apPOL (PDB ID : 7SXL), serta PfMyoA dan KNX-002 (PDB ID : 8CDQ).
Hasil ex vivo menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun C. parasiticus (100 μg/mL)
menunjukkan potensi antimalaria dengan nilai inhibisi pertumbuhan parasit sebesar
56,83%. Sementara itu, uji in silico menunjukkan bahwa di antara ligan yang diuji,
senyawa
2,7-Diphenyl-1,6-dioxopyridazino[4,5:2',3']pyrrolo[4',5'-d]pyridazine
(29_CPL) memiliki afinitas tertinggi terhadap 1CET, 3I65, 7SXL, dan 8CDQ dan
senyawa N-(4-Nitrophenyl)-1H-indol-3-amine (3_CPL) terhadap 2PT9 dengan
nilai afinitas -10,5 hingga -11,0 kcal/mol, yang secara signifikan lebih tinggi
dibandingkan klorokuin sebagai kontrol positif (-6,8 hingga -7,3 kcal/mol). Afinitas
tinggi tersebut didukung oleh adanya interaksi hidrofobik, hidrogen, maupun van
der Waals yang berkontribusi pada stabilitas kompleks ligan-protein. Studi
tambahan berupa evaluasi kelayakan obat menunjukkan bahwa 49 dari 50 ligan uji
telah memenuhi Lipinski’s Rule of Five sehingga layak dipertimbangkan sebagai
senyawa kandidat obat oral.
Description
Reaploud Repository 25 Maret_agus
