Faktor yang Berhubungan dengan Penerimaan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada Anak (0-14 Tahun) di Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang dapat menyerang anak
dan mengganggu pertumbuhan, termasuk risiko stunting. Di Kabupaten Jember,
kasus TBC anak meningkat dari 2022 ke 2023, dengan Kecamatan Kaliwates
sebagai wilayah urban dengan angka tertinggi akibat kepadatan penduduk. Anak
dengan riwayat kontak berisiko mengalami Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) yang
dapat berkembang menjadi tuberkulosis aktif. Meskipun program Terapi
Pencegahan Tuberkulosis (TPT) telah dijalankan, capaian di salah satu puskesmas
Kaliwates tahun 2024 masih 0% karena penolakan orang tua. Penelitian ini
bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan tidak
diterimanya TPT oleh anak usia 0–14 tahun di Kecamatan Kaliwates.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain
cross-sectional yang dilakukan di Kecamatan Kaliwates, mencakup Puskesmas
Kaliwates, Jember Kidul, dan Mangli. Populasinya adalah 58 orang tua/wali anak
usia 0–14 tahun yang serumah dengan pasien tuberkulosis, diambil dengan teknik
total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner
yang telah di uji kevalidan dan reliabilitasnya, serta pemetaan lokasi menggunakan
Google Maps. Pengolahan data melalui tahap editing, coding, scoring, dan
tabulating kemudian dianalisis menggunakan crosstab dan uji chi-square, disajikan
dalam tabel dan narasi.
Hasil penelitian menunjukkan 34 anak tidak menerima TPT di Kecamatan
Kaliwates. Sebagian besar responden perempuan (67,2%), usia dewasa madya
(51,7%), berpendidikan tinggi (58,6%), tidak bekerja (58,6%), dengan tingkat
pengetahuan (55,2%) dan paparan informasi (60,3%) kurang, serta 41,4% berjarak >2 km dari puskesmas. Analisis chi-square menunjukkan hubungan signifikan
antara penerimaan TPT dengan usia (p=0,004; PR=1,95; CI=1,18–3,22),
pendidikan (p=0,008; PR=1,80; CI=1,16–2,76), pengetahuan (p < 0,001; PR=2,64;
CI=1,45–4,81), dan paparan informasi (p < 0,001; PR=3,81; CI=1,73–8,40).
Sedangkan jenis kelamin (p=0,518; PR=0,86; CI=0,52–1,40), status pekerjaan
(p=0,614; PR=1,12; CI=0,73–1,72), dan jarak puskesmas (p=0,113; PR=0,71;
CI=0,46–1,08) tidak berhubungan signifikan.
Penerimaan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada anak usia 0–14
tahun masih rendah, hal tersebut berhubungan dengan usia, pendidikan,
pengetahuan, dan paparan informasi, sementara jenis kelamin, pekerjaan, dan jarak
ke puskesmas tidak berhubungan. Penelitian terbatas oleh teknik pengambilan
sampel total sampling dan pengaruh keputusan keluarga. Puskesmas perlu
melakukan monitoring pasien putus obat, mengembangkan program edukasi
keluarga seperti “Keluarga Sadar TPT,” serta menyediakan checklist dan grup
WhatsApp untuk pengingat. Masyarakat diharapkan mematuhi arahan kesehatan
dan aktif mencari serta berbagi informasi. Peneliti berikutnya dianjurkan
menambah variabel dan memperluas populasi studi.
Description
Reupload Repository 5 Februari 2026_Hasim
