Hubungan Ketahanan Pangan Dan Perilaku Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Keluarga Petani (Studi DI Desa Rawan Pangan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Stunting merupakan suatu kondisi terjadinya gagal tumbuh pada anak usia
0-59 bulan yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis, sehingga menyebabkan
anak terlihat lebih pendek jika dibandingkan dengan anak di kalangan usianya.
Prevalensi stunting berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun
2022 menunjukkan angka 21,6% dan di provinsi Jawa Timur sebesar 19,2%.
Kabupaten Jember menduduki peringkat pertama stunting tertinggi se-Jawa Timur
dengan persentase 34,9%, sedangkan di Puskesmas Ledokombo sebesar 13,3%.
Meskipun prevalensi stunting di Kecamatan Ledokombo telah mencapai target
14%, namun masih terdapat 2 desa yang menjadi desa rawan pangan, yaitu Desa
Karang Paiton dan Slateng. Kondisi desa yang dikategorikan rawan pangan dapat
menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya angka stunting. Stunting pada
balita disebabkan oleh 2 faktor, yaitu penyebab langsung meliputi asupan makanan
dan penyakit infeksi, sedangkan penyebab tidak langsung meliputi kerawanan
pangan rumah tangga, pola asuh, kesehatan lingkungan, dan pelayanan kesehatan.
Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara
ketahanan pangan dan perilaku Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dengan kejadian
stunting pada balita keluarga petani di desa rawan pangan Kecamatan Ledokombo
Kabupaten Jember.
Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan
pendekatan cross sectional, yang dilakukan di Desa Karang Paiton dan Slateng
Kecamatan Ledokombo pada bulan Februari hingga Maret 2024 dengan sampel
sebanyak 103 ibu balita keluarga petani yang didapatkan secara simple random
sampling. Teknik pengumpulan data berupa wawancara menggunakan kuesioner
yang meliputi karakteristik balita (usia, jenis kelamin, dan status gizi), karakteristik
keluarga (pendidikan, pendapatan, dan jumlah anggota keluarga), status ketahanan
pangan menggunakan kuesioner US-HFFSM, dan indikator perilaku KADARZI
(menimbang berat baadn balita secara teratur, memberikan ASI eksklusif hingga
berusia 6 bulan, mengonsumsi beraneka ragam pangan, menggunakan garam
beryodium, dan mengonsumsi suplementasi gizi). Data kejadian stunting
didapatkan melalui pengukuran TB/U. Data kemudian dianalisis menggunakan uji
Chi Square pada software SPSS.
Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa karakteristik balita di desa
rawan pangan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember sebagian besar berada di
rentang usia 37-48 bulan (36,9%), berjenis kelamin laki-laki (50,5%) dan lebih
banyak tidak mengalami stunting (57,3%). Sedangkan hasil karakteristik keluarga
petani didapatkan sebagian besar orangtua berpendidikan rendah dengan persentase
pendidikan ibu (77,7%) dan pendidikan ayah (66%). Sebagian besar pendapatan keluarga dikategorikan berpendapatan rendah (83,5%) dan jumlah anggota dalam 1
keluarga didominasi >4 orang (80,6%). Status ketahanan pangan pada keluarga
petani di desa rawan pangan Kecamatan Ledokombo sebagian besar dikategorikan
rawan pangan (74,8%) sedangkan rumah tangga yang tahan pangan (25,2%).
Rawan pangan yang terjadi pada keluarga petani disebabkan karena kurangnya
ketersediaan dan akses terhadap pangan sehingga mengakibatkan tidak
terpenuhinya asupan makanan yang cukup dan bergizi. Selain itu, penerapan
perilaku KADARZI pada keluarga petani di desa rawan pangan Kecamatan
Ledokombo Kabupaten Jember sebagian besar belum dikatakan baik (76,7%).
Terdapat 2 indikator yang belum diterapkan dengan baik dan belum mencapai target
80%, yaitu mengonsumsi aneka ragam pangan ditinjau dari aspek Beragam,
Bergizi, Seimbang, dan Aman (38,8%) dan menggunakan garam beryodium
(62,1%). Sedangkan hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square
menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan
(p=<0,001, OR=14,400) dan perilaku KADARZI (p=<0,001, OR=12,486) dengan
kejadian stunting pada balita keluarga petani di desa rawan pangan Kecamatan
Ledokombo. Penelitian ini menunjukkan bahwa rumah tangga rawan pangan
memiliki kecenderungan mengalami stunting pada balita sebesar 14,4 kali
dibandingkan dengan rumah tangga tahan pangan. Selain itu, keluarga yang belum
menerapkan perilaku KADARZI dengan baik memiliki kecenderungan mengalami
stunting pada balita sebesar 12,486 kali dibandingkan dengan keluarga yang telah
menerapkan perilaku KADARZI dengan baik.
Saran yang dapat diberikan yaitu Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dan
Puskesmas Ledokombo dapat mengoptimalkan penerapan Perilaku Keluarga Sadar
Gizi (KADARZI) sebagai salah satu upaya pencegahan stunting pada balita,
melakukan survei dan pengawasan penggunaan garam beryodium, menetapkan
program Gemar Konsumsi Protein dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, serta
melakukan pemberdayaan masyarakat terkait mandiri pangan dengan
memanfaatkan potensi pangan lokal. Adapun saran untuk masyarakat yaitu dapat
memahami dan menerapkan 5 indikator KADARZI sebagai upaya dalam
pencegahan stunting dan dapat memanfaatkan pekarangan kosong di sekitar rumah
sebagai sumber bahan pangan keluarga. Saran yang diberikan untuk penelitian
selanjutnya yaitu dapat menganalisis lebih lanjut terkait hubungan karakteristik
balita dan keluarga dengan kejadian stunting, dapat melakukan analisis multivariat
variabel, dan dapat menganalisis masing-masing indikator perilaku KADARZI
supaya mengetahui indikator yang lebih berpengaruh terhadap kejadian stunting.
Description
Reupload file repository 20 februari 2026_agus/feren
