Fenomena Anak Pemburu Koin Logam di Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana Bali Tahun 2019
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
Abstract
Fenomena Anak Pemburu Koin Logam di Pelabuhan Penyeberangan
Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana Bali Tahun 2019;
Anugrah Satria Pinandita, 180220303006; 2020; 135 halaman; Program Studi
Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Jember. Masa anak-anak adalah masa bermain dan belajar.
Mengacu pada Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 20 November tahun
1989 disebutkan dan diakui bahwa anak-anak pada hakikatnya berhak untuk
memperoleh kehidupan kanak-kanak yang layak dan mereka seyogyanya
tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi secara dini. Namun faktanya, tidak
semua anak dapat menikmati masa kanak-kanaknya dengan bahagia, bahkan
di antaranya terganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya. Anak
anak yang tidak beruntung ini adalah mereka yang baik sebagian atau seluruh
waktunya harus mereka habiskan di tempat bekerja sebagai pekerja anak.
Salah satu contoh fenomena yang terjadi di lapangan adalah hadirnya
sekumpulan anak di sekitar pelabuhan Gilimanuk Bali untuk menghabiskan
waktunya disana dengan cara bekerja sekaligus bermain. Sekumpulan anak
itu memiliki motif atau alasan yang berbeda-beda dalam menjalankan setiap
kegiatannya. Dari kegiatan yang selalu di ulang tiap harinya akan
menimbulkan interaksi yang kuat menjadi bentuk pertukaran sosial secara
masif baik antar sesama teman sebaya, keluarga, petugas pelabuhan, hingga
penumpang kapal. Maka dari itu berdasarkan seklumit ringkasan di atas penulis
menentukan rumusan masalah yakni, 1) Bagaimanakah latar belakang
munculnya fenomena anak pemburu koin logam di pelabuhan penyeberangan
Gilimanuk Bali? 2) Bagaimanakah pola interaksi anak pemburu koin logam
ketika melakukan kegiatan ngelogam di lingkungan Pelabuhan
Penyeberangan Gilimanuk Bali?. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
bagaimana latar belakang munculnya fenomena anak pemburu koin logam di
pelabuhan penyeberangan Gilimanuk Bali dan untuk menganalisis pola
interaksi anak pemburu koin logam ketika melakukan kegiatan ngelogam di
lingkungan Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk Bali.
Latar belakang munculnya fenomena anak pemburu koin logam ini
menggunakan teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Marslow. Sedangkan
dari pola interaksi anak pemburu koin logam menggunakan teori pertukaran
sosial milik Homans dan teori solidaritas Durkheim
Jenis penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian kualitatif.
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian yang dipilih adalah Pelabuhan
penyeberangan Gilimanuk Bali. Teknik pengumpulan data menggunakan
wawancara mendalam ( indepth interview ), observasi partisipan, dan
dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Teknik pencermatan hasil penelitian menggunakan
teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa anak melakukan kegiatan
ngelogam tidak lain tidak bukan untuk membantu keluarga mencukupi
kebutuhan sehari-harinya. Adapula anak yang melakukan kegiatan ngelogam
ini dalam rangka memenuhi kebutuhan rasa amannya yakni mereka
memerlukan perasaan aman untuk dapat berinteraksi dengan orang lain secara
bebas serta mereka merasa senang apabila sedang berada di dekat teman
temannya. Kebutuhan sosial juga menjadi salah satu penyebab munculnya
fenomena ini dimana seperti kodrat manusia adalah makhluk sosial yang
tidak bisa hidup tanpa orang lain. Selanjutnya anak pemburu koin logam
melakukan kegiatan ngelogam sebagai pembuktian kepada keluarga terutama
orang tuanya, bahwa mereka telah mampu untuk mencari uang sendiri
walaupun masih terbilang berusia kanak-kanak, hal ini sesuai dengan
kebutuhan akan penghargaan. Puncak dari latar belakang munculnya
fenomena ini adalah aktualisasi diri yakni anak pemburu koin logam
mempertahankan eksistensinya dengan cara menyalurkan bakat dan hobinya,
salah satunya ada keahlian berenang. Merekan bangga akan keahlian yang
dimiliki. Tentunya kebutuhan-kebutuhan di atas yang erat kaitannya dengan latar
belakang munculnya anak pemburu koin logam tidak serta merta muncul
tanpa adanya interaksi sosial itu sendiri. Pola interaksi atau pertukaran sosial
yang terjadi selama adanya fenomena ini merupakan upaya untuk memenuhi
tujuan yang hanya dapat diraih melalui interaksi dengan individu lainnya.
Walaupun pada awalnya tiap individu tidak saling mengenal, namun dengan
saling terkaitnya tujuan masing-masing, mereka dengan suka rela saling
melakukan pertukaran sosial untuk mencapai tujuannya, dalam hal ini tujuan
tidak dibatasi oleh materi semata namun dapat berupa perasaan senang dan
kebanggaan. Hal yang unik lainnya juga anak pemburu koin logam tampakkan ketika
hendak berkegiatan. Ritual bercanda, berteriak, dan tertawa mereka lakukan
untuk membangun kembali solidaritas sehari sebelumnya. Salam hangat dan
riuh ketika para pemburu koin logam bertemu di pelabuhan dan dipersatukan
kembali dengan teman-teman mereka menunjukkan solidaritas sudah terjalin
cukup tinggi. Temuan dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa fenomena anak
pemburu koin logam di pelabuhan penyeberangan Gilimanuk, ternyata juga
memiliki nilai pendidikan ke-IPS-an yang bisa dijadikan refrensi dalam suatu
kegiatan belajar di sekolah. Misalnya praktik-praktik di lapangan yang di
lakukan anak pemburu koin logam memberikan pesan yang sangat besar
sebagai pembelajaran tentang pertukaran sosial, kesetiaan, moral, kasih
sayang, gotong royong, dan ketekunan.
Description
reupload file repository 15 april 2025 izza/toufik
