Hubungan Pemakaian Sepatu sebagai Alat Pelindung Diri (APD) dengan Kejadian Tinea unguium pada Petani di Desa Lojejer

dc.contributor.authorKarenzha Iftinan
dc.date.accessioned2026-01-28T06:38:14Z
dc.date.issued2024-12-12
dc.descriptionReupload file repositori 28 januari 2026_Kurnadi
dc.description.abstractDermatofitosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur dermatofita. Jamur ini menyerang bagian keratin, seperti kulit, kuku, dan rambut. Dermatofitosis diklasifikasikan menjadi beberapa menurut lokasi infeksinya. Salah satunya adalah Tinea unguium yang menginfeksi kuku. Pekerjaan yang melibatkan kontak dengan lingkungan kotor dan lembap dapat meningkatkan risiko terkena Tinea unguium. Contohnya adalah petani yang bekerja di sawah yang kontak langsung terhadap tanah, air, dan lumpur untuk waktu yang lama. Kuku yang sering terpapar tanah atau lumpur tanpa perlindungan dan jarang dibersihkan dapat memicu pertumbuhan jamur. Untuk meminimalisir risiko penyakit di tempat kerja, petani disarankan untuk menggunakan alat pelindung diri (APD). Salah satu APD yang penting bagi petani adalah sepatu. Kontak langsung dengan tanah dalam durasi yang panjang serta kurangnya kesadaran dalam penggunaan APD meningkatkan kerentanan petani terhadap penyakit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemakaian sepatu sebagai APD dengan kejadian Tinea unguium pada petani di Desa Lojejer. Jenis penelitian ini adalah analisis observasional dengan desain studi crosssectional. Pengambilan sampel penelitian dilakukan di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Setelah itu, sampel dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Jember untuk dilakukan identifikasi jamur dermatofita. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober hingga Desember 2024, dengan jumlah responden sebanyak 98 petani yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data primer dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner serta pengujian laboratorium potongan kuku kaki. Analisis laboratorium dilakukan dengan media sabouraud dextrose agar (SDA) dan pewarnaan menggunakan lactophenol cotton blue dan cairan NaCl. Analisis statistic dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Apabila data tidak memenuhi persyaratan uji ini, maka digunakan uji Fisher’s exact. Mayoritas petani di Desa Lojejer berada dalam rentang usia 35-44 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Kejadian Tinea unguium ditemukan pada 7 orang (7,1%), dengan sebagian besar penderita berusia 45-64 tahun (4 orang atau 57,1%) dan berjenis kelamin laki-laki (6 orang atau 85,7%). Jamur dermatofita yang paling banyak menginfeksi kuku petani adalah Trichophyton rubrum, sementara sampel lain menunjukkan keberadaan jamur kontaminan dari golongan Aspergillus sp.. Pada penelitian ini pemakaian sepatu sebagai APD, kebersihan pemakaian sepatu, dan kebersihan diri tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian Ti ne a unguium (p-value > 0,05).
dc.description.sponsorshipDPU: dr. Angga Mardro Raharjo, Sp.P DPA: dr. Dini Agustina, M. Biomed
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/606
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Kedokteran
dc.subjectPemakaian Sepatu
dc.subjectTinea Unguium
dc.subjectDermatofitosis
dc.titleHubungan Pemakaian Sepatu sebagai Alat Pelindung Diri (APD) dengan Kejadian Tinea unguium pada Petani di Desa Lojejer
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
KARENZHA IFTINAN - 212010101056.pdf
Size:
3.06 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: