Gambaran Kinesiophobia pada Pasien Post Op Fraktur Ekstremitas di RSD dr. Soebandi Jember
| dc.contributor.author | Cintya Dyah Pramesthi | |
| dc.date.accessioned | 2026-03-11T04:32:38Z | |
| dc.date.issued | 2026-01-15 | |
| dc.description | Reuploud file repositori 6 maret 2026_Firli | |
| dc.description.abstract | Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam penatalaksanaan fraktur adalah dengan tindakan operatif atau pembedahan. Tindakan pembedahan tersebut dapat mengakibatkan timbulnya efek nyeri pada pasien. Rasa nyeri dapat muncul disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya atau bahkan ketiadaan latihan mobilisasi dini pasca operasi oleh pasien. Pasien mengeluh nyeri dan merasa takut atau ragu untuk melakukan pergerakan setelah operasi. Dalam situasi nyeri akut, penghindaran aktivitas sehari-hari yang meningkatkan nyeri tersebut merupakan reaksi spontan dan adaptif individu. Pasien yang mengalami rasa sakit dan takut akan rusaknya area lukanya tanpa sadar akan membatasi pergerakannya. Pasien yang merasakan nyeri dan ketakutan untuk mobilisasi dini pasca operasi tersebut dapat mengalami kinesiophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinesiophobia pada pasien post operasi fraktur ekstremitas di RSD dr. Soebandi Jember. Desain peneltian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 51 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Tampa Scale of Kinesiophobia (TSK-17) untuk mengukur skor kinesiophobia dan dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil peneltian menunjukkan usia terbanyak responden adalah remaja akhir dengan usia 17-25 tahun sebanyak 19 responden (37,3%). Sebagian besar responden penelitian ini berjenis kelamin lak-laki dengan jumlah 32 responden (62,7%). Sebanyak 17 responden (33,3%) memiliki pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA). Ditemukan sebanyak 18 responden (35,3%) bekerja sebagai wiraswasta. Ada 31 responden (60,8%) yang mengalami fraktur ekstremitas bawah. Dari 51 responden didapatkan jenis-jenis fraktur sebagai berikut : femur 13 responden (25,5%), humerus 9 responden (17,6%), fibula 7 responden (13,7%), tibia 7 responden (13,7%), ulna 5 responden (9,8%), radius 4 responden (7,8), patella 3 responden (5,9%), clavicula 2 responden (3,9%) dan pelvis 1 responden (2,0%). Hampir seluruh responden yaitu sebanyak 50 responden (98,0%) melakukan jenis operasi ORIF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 14 responden (27,5%) mengalami low kinesiophobia dan 37 responden (72,5%) mengalami high kinesiophobia. Tingginya prevalensi kinesiophobia pada pasien post operasi menunjukkan perlunya peran yang lebih mendukung dari perawat untuk meningkatkan kepercayaan diri pasien selama fase rehabilitasi saat masa rawat inap pasien dengan fraktur ekstremitas. Perlunya identifikasi terjadinya kinesiophobia sebagai permasalahan yang penting saat merencanakan dan melaksanakan prosedur rehabilitasi pasien. Selain peran perawat, motivasi secara eksternal terutama dari orang-orang terdekat seperti keluarga harus ditingkatkan bagi pasien post operasi. Pasien yang memilik motivasi yang kuat akan memiliki kemampuan mobilisasi yang maksimal. Dengan kemampuan mobilisasi dini yang maksimal tersebut pasien akan terhindar dari kinesiophobia. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama : Ns. Mulia Hakam, M.Kep.,Sp.Kep.MB Dosen Pembimbing Anggota : Ns. Siswoyo, S.Kep., M.Kep. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/5163 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Keperawatan | |
| dc.subject | Kinesiophobia | |
| dc.subject | Pasien Post Op | |
| dc.subject | Fraktur Ekstremitas | |
| dc.title | Gambaran Kinesiophobia pada Pasien Post Op Fraktur Ekstremitas di RSD dr. Soebandi Jember | |
| dc.type | Other |
