Gambaran Kinesiophobia pada Pasien Post Op Fraktur Ekstremitas di RSD dr. Soebandi Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam penatalaksanaan fraktur adalah
dengan tindakan operatif atau pembedahan. Tindakan pembedahan tersebut dapat
mengakibatkan timbulnya efek nyeri pada pasien. Rasa nyeri dapat muncul
disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya atau bahkan ketiadaan latihan
mobilisasi dini pasca operasi oleh pasien. Pasien mengeluh nyeri dan merasa takut
atau ragu untuk melakukan pergerakan setelah operasi. Dalam situasi nyeri akut,
penghindaran aktivitas sehari-hari yang meningkatkan nyeri tersebut merupakan
reaksi spontan dan adaptif individu. Pasien yang mengalami rasa sakit dan takut
akan rusaknya area lukanya tanpa sadar akan membatasi pergerakannya. Pasien
yang merasakan nyeri dan ketakutan untuk mobilisasi dini pasca operasi tersebut
dapat mengalami kinesiophobia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinesiophobia pada
pasien post operasi fraktur ekstremitas di RSD dr. Soebandi Jember. Desain
peneltian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 51 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
kuesioner Tampa Scale of Kinesiophobia (TSK-17) untuk mengukur skor
kinesiophobia dan dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.
Hasil peneltian menunjukkan usia terbanyak responden adalah remaja akhir
dengan usia 17-25 tahun sebanyak 19 responden (37,3%). Sebagian besar
responden penelitian ini berjenis kelamin lak-laki dengan jumlah 32 responden
(62,7%). Sebanyak 17 responden (33,3%) memiliki pendidikan terakhir Sekolah
Menengah Atas (SMA). Ditemukan sebanyak 18 responden (35,3%) bekerja
sebagai wiraswasta. Ada 31 responden (60,8%) yang mengalami fraktur ekstremitas
bawah. Dari 51 responden didapatkan jenis-jenis fraktur sebagai berikut : femur 13
responden (25,5%), humerus 9 responden (17,6%), fibula 7 responden (13,7%),
tibia 7 responden (13,7%), ulna 5 responden (9,8%), radius 4 responden (7,8),
patella 3 responden (5,9%), clavicula 2 responden (3,9%) dan pelvis 1 responden
(2,0%). Hampir seluruh responden yaitu sebanyak 50 responden (98,0%)
melakukan jenis operasi ORIF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 14
responden (27,5%) mengalami low kinesiophobia dan 37 responden (72,5%)
mengalami high kinesiophobia.
Tingginya prevalensi kinesiophobia pada pasien post operasi menunjukkan
perlunya peran yang lebih mendukung dari perawat untuk meningkatkan
kepercayaan diri pasien selama fase rehabilitasi saat masa rawat inap pasien dengan
fraktur ekstremitas. Perlunya identifikasi terjadinya kinesiophobia sebagai
permasalahan yang penting saat merencanakan dan melaksanakan prosedur
rehabilitasi pasien. Selain peran perawat, motivasi secara eksternal terutama dari
orang-orang terdekat seperti keluarga harus ditingkatkan bagi pasien post operasi.
Pasien yang memilik motivasi yang kuat akan memiliki kemampuan mobilisasi
yang maksimal. Dengan kemampuan mobilisasi dini yang maksimal tersebut pasien
akan terhindar dari kinesiophobia.
Description
Reuploud file repositori 6 maret 2026_Firli
