Strategi Coping Stress Guru pada Implementasi Kurikulum Merdeka di MI Habibul Abrori Lumajang
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Stres kerja adalah masalah penting dalam dunia pendidikan, terutama
karena tingginya tingkat stres di kalangan guru. Stres kerja yang dimaksud
cenderung termasuk dalam distress, yang membuat kesehatan mental guru semakin
buruk. Perubahan kebijakan dalam dunia pendidikan yaitu adanya kurikulum baru
yaitu Kurikulum Merdeka ternyata memunculkan keresahan dan meningkatkan
beban kerja guru. Kondisi tersebut juga terjadi pada guru madrasah terutama
madrasah ibtidaiyah karena tingginya beban kerja guru madrasah. MI Habibul
Abrori merupakan salah satu MI di Kabupaten Lumajang yang menerapkan
Kurikulum Merdeka. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 3
September 2024 berupa wawancara kepada Kepala Sekolah dan beberapa guru
mendapatkan hasil bahwa guru menunjukkan hasil bahwa dari 13 guru kelas yang
mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, 10 diantaranya menunjukkan adanya
indikasi stres kerja. Indikasi tersebut berupa rasa bingung, gelisah, mudah marah,
mudah kesal, sulit untuk fokus, dan juga sering kali merasakan pusing, namun hasil
menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka bukan menjadi penyebab utamanya,
melainkan ada aspek lain yaitu dari penyusunan perencanaan dan peserta didik.
Kondisi stres yang dirasakan, membuat guru melakukan strategi coping untuk
mengurangi tingkat stresnya. Salah satu teori strategi coping yaitu teori coping
multidimensional menurut Carver, Scheier, & Weintraub (1989), dimana terdapat
strategi coping yang kurang berguna dan sering dilakukan yaitu less useful coping
responses. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa guru cenderung
melakukan less useful coping responses, namun masih belum terungkap, karena
masih menggunakan pendekatan Lazarus dan Folkman (1985). Tujuan penelitian
vii
ini adalah menggambarkan strategi coping stress guru dalam mendukung kesehatan
mental selama Kurikulum Merdeka di MI Habibul Abrori Lumajang.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan
studi kasus. Penelitian ini dilakukan di MI Habibul Abrori Lumajang. Pengumpulan
data penelitian menggunakan wawancara mendalam semi terstruktur dan studi
dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan kunci (Kepala
Sekolah MI Habibul Abrori), informan utama (guru kelas di MI Habibul Abrori),
dan informan tambahan (rekan kerja dari informan utama).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka
bukan menjadi sumber stres kerja utama bagi guru. Sumber stres ditemukan
bersumber dari penyusunan perencanaan dan peserta didik. Tahap perencanaan
menurut sebagian informan menjadi sumber stres kerja. Hal tersebut karena guru
mengalami kesulitan dalam menyusun dan juga terdapat tekanan untuk
melaksanakan sebagai pemenuhan penilaian. Beberapa kesulitan dialami oleh guru
saat penyusunan perencanaan yaitu adanya perubahan nama perangkat
pembelajaran, kurang efektifnya KKG, dan jadwal mengajar yang padat. Tahap
pelaksanaan pembelajaran, juga menunjukkan bahwa guru mengalami kendala,
namun tidak semua aspek dalam pelaksanaan menjadi sumber stres. Hal tersebut
karena beberapa aspek tidak terdapat tekanan maupun tuntutan yang dapat
menimbulkan stres, meskipun banyak kendala yang dialami guru. Kendala tersebut
mulai dari strategi pembelajaran, bahan ajar, metode, materi, dan peserta didik.
Peserta didik merupakan satu-satunya aspek dalam pelaksanaan yang menjadi
sumber stres kerja bagi guru. Perilaku buruk dan rendahnya kemampuan kognitif
membuat guru tertekan dan berpengaruh terhadap proses pembelajaran di kelas.
Sumber stres lainnya diluar kurikulum merdeka juga ditemukan yaitu tuntutan kerja
yang tinggi sebagai wali kelas dan keterlambatan perolehan gaji. Stres kerja yang
terjadi tersebut perlu adanya strategi coping stres untuk mengurangi dampaknya
sehingga dapat meningkatkan kesehatan mental guru. Strategi coping stres yang
dilakukan guru ketika memiliki sumber daya dan kemampuan untuk mengatasinya
memilih melakukan problem focused coping dan emotion focus coping terlebih
dahulu. Less useful coping response dilakukan ketika guru sudah mulai putus asa
dengan dua strategi coping sebelumnya. Less useful coping response yang
dilakukan meliputi focus on and venting of emotions, behavioral disengagement,
dan mental disengagement. Focus on and venting of emotions berupa pelepasan
emosi marah kepada siswa. Behavioral disengagement meliputi menghindari hal
yang seharusnya dilakukan, memasak di dapur sekolah, dan membeli makananmakanan kesukaan. Mental disengagement dengan mengistirahatkan badan dengan
tidur, mengandalkan uang untuk mengatasi ketidaknyamanan, dan menonton di HP.
Ketiga coping tersebut merupakan coping yang kurang efektif karena hanya
memberikan ketenangan sesaat dan tidak dapat menyelesaikan permasalahan dasar
yang menjadi sumber stres, sehingga hal tersebut jika terus dilakukan dapat
berdampak pada kesehatan mental guru.
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan Kurikulum
Merdeka bukan menjadi sumber stres utama bagi guru, akan tetapi sumber stres
berasal dari penyusunan perencanaan dan peserta didik. Hal tersebut karena adanya
tekanan maupun tuntutan yang diterima oleh guru. Sumber stres lainnya juga
ditemukan berupa tingginya tuntutan kerja karena beban ganda tugas dan
keterlambatan perolehan gaji. Kondisi stres tersebut direspon dengan berbagai
upaya coping. Coping yang pertama dilakukan berupa problem focused coping dan
emotion focused coping. Less useful coping response dilakukan setelah dua coping
diatas tidak mampu menyelesaikan masalah. Less useful coping response yang
dilakukan berupa adalah focus on and venting of emotions, behavioral
disengagement, dan mental disengagement. Ketiga upaya coping tersebut hanya
memberikan solusi sementara dan berdampak negatif pada kesehatan mental.
Description
Reuploud file repositori 25 Feb 2026_Firli
