Analisis Karakteristik Perkembangan Buah Melon (Cucumis Melo L.) Varietas Sweethami secara Hidroponik Tipe Nft pada Agroindustri Yoniki Farm
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman hortikultura yang memiliki
nilai ekonomis yang tinggi, tanaman ini juga sangat digemari oleh masyarakat
karena memiliki ciri khas buah yang manis, segar dan memiliki gizi yang tinggi.
Menurut data BPS (2024) produksi melon di Indonesia pada jangka waktu 2021-
2023 berada di angka 129.147, 118.969 dan 117.794 ton, namun angka tersebut
hanya mampu memenuhi kebutuhan nasional sebesar 38-40% setiap tahunnya.
Dalam meningkatkan kualitas tanaman melon penggunaan sistem hidroponik
seperti NFT (Nutrient Film Technique) cenderung menghasilkan buah dengan
ukuran yang seragam dengan kadar kemanisan tinggi dan menghasilkan buah yang
berkualitas tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa
perubahan karakteristik dan kualitas buah melon varietas sweeethami pada
budidaya hidroponik NFT di Agroindustri Yoniki Farm. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan dua jenis
pengamatan yaitu Non-destruktif dengan interval 3 hari sekali dan destruktif
dengan interval 5 hari sekali dengan pengambilan sampel menggunakan metode
Random sampling. Penelitian akan dilakukan selama buah melon memasuki fase
pembuahan hingga fase panen. Hasil penelitian menghasilkan bahwa adanya
parameter seperti bobot buah, diameter buah, kadar brix dan volume buah yang
memberikan perbedaan yang nyata terhadap usia tanaman. Sedangkan untuk
parameter ketebalan daging buah tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap
usia tanaman. Parameter yang memiliki perbedaan yang nyata akan terus
mengalami pertumbuhan buah yang signifikan hingga masuk pada fase stagnansi
pada rentang usia 60-62. Dengan demikian, pada usia 60-62 merupakan usia panen
paling efektif dan efisien pada buah melon varietas Sweethami, yang mana
karakteristik buah telah mencapai ukuran masksimal, pertumbuhan mulai stagnan
dan kualitas kemanisan buah berada pada kondisi optimal, yang mana apabila
pemanenan dilakukan melebihi rentang waktu panen tersebut kualitas buah tidak
berbeda nyata dan cenderung menurun. Selain itu, penetapan waktu panen yang
optimal ini dapat mengefisiensi waktu dan beban biaya budidaya.
Description
Approved by Teddy
