Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Beras Analog Berbahan Baku Tepung Komposit sebagai Pangan Fungsional
Loading...
Files
Date
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Penelitian ini dilakukan karena adanya ketergantungan terhadap satu
sumber pangan pokok yaitu beras. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan beras
nasional cukup tinggi namun ketersediaan beras masih kurang sehingga pemerintah
melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk menekan angka
impor beras maka perlu adanya diversifikasi pangan dengan memanfaatkan
komoditas lokal sebagai pangan pokok sekaligus pangan fungsional. Penelitian
bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia beras analog dan organoleptik
nasi analog dari tepung komposit Mocaf (Modified Cassava Flour), MCS (Modified
Corn Starch), dan tepung talas pada formula yang berbeda.
Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan satu faktor pada 4 taraf, yaitu F0 (100% Mocaf), F1 (50% Mocaf, 30%
MCS, 20% tepung talas), F2 (50% Mocaf, 25% MCS, 25% tepung talas), F3 (50%
Mocaf, 20% MCS, 30% tepung talas). Beras analog diuji berdasarkan karakteristik
fisikokimia dan organoleptik. Parameter uji fisikokimia meliputi densitas kamba,
daya serap air, waktu pemasakan, rendemen, warna, kadar air, dan kadar gula total.
Sedangkan parameter uji organoleptik meliputi warna, tekstur, rasa, aroma,
penampakan nasi, dan keseluruhan yang diuji oleh 25 panelis tidak terlatih. Data
penelitian akan dianalisis menggunakan metode Analysis of Varian (ANOVA).
Hasil analisis yang berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan akan
dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf
kepercayaan 95% (α = 0,05).
Hasil penelitian menunjukkan rasio Mocaf, MCS, dan tepung talas
berpengaruh terhadap karakteristik fisik beras analog meliputi densitas kamba, daya
serap air, waktu pemasakan, rendemen, dan warna beras analog. Hasil pengujian
densitas kamba beras analog menunjukkan bahwa mengalami peningkatan seiring
dengan menurunnya rasio MCS dan meningkatnya tepung talas dengan nilai
terendah diperoleh sampel F1 (0,500 mg/mL) dan nilai tertinggi diperoleh sampel
F0 (0,521 mg/mL). Hasil pengujian daya serap air beras analog berbanding terbalik
dengan densitas kambanya, dimana sampel F1 (150,15%) merupakan sampel
dengan nilai daya serap tertinggi dan sampel F0 (94,67%) merupakan sampel
dengan nilai daya serap terendah. Waktu pemasakan menjadi parameter uji fisik
selanjutnya yang menunjukkan sampel F1 menjadi sampel dengan waktu
pemasakan terendah yaitu selama 50 menit. Parameter selanjutnya yaitu rendemen
dengan hasil pengujian yang menunjukkan bahwa penambahan MCS dan tepung
talas mampu meningkatkan rendemen produk. Penambahan MCS dan tepung talas
pada sampel F1 menunjukkan nilai rendemen tertinggi yaitu sebesar 90,82%.
Pengujian warna pada penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan MCS
mampu meningkatakan nilai kecerahan (L*) sedangkan penambahan tepung talas
menurunkan nilai kecerahan (L*) dan meningkatkan nilai kekuningan (b*). Sampel
F1 (88,82) merupakan sampel dengan nilai L* tertinggi, sedangkan F3 (81,82)
merupakan sampel dengan nilai L* terendah.
Karakteristik kimia beras analog pada penelitian ini meliputi kadar air dan
kadar gula total. Hasil pengujian kadar air beras analog berkisar antara 4,45%
sampai 5,78%, sedangkan kadar gula total berkisar antara 1,41 mg/mL hingga 1,77
mg/mL. Karakteristik organoleptik pada penelitian ini meliputi warna, tekstur, rasa,
aroma, dan kenampakan nasi. Hasil uji menunjukkan bahwa parameter tersebut
dengan rasio tepung komposit yang berbeda dapat diterima oleh panelis.
Peningkatan rasio tepung talas berpengaruh terhadap tekstur nasi yang menjadi
lebih pulen dan lunak dan memengaruhi warna menjadi cenderung lebih gelap,
sedangkan penambahan MCS dapat meningkatkan kecerahan warna nasi dari beras
analog dan mengurangi waktu pemasakannya.
Description
Validasi file repositori 20 Agustus 2026_Firli
