Pemberdayaan Masyarakat dan Permasalahannya
| dc.contributor.author | Nur Risqi Imaniyah Tsulatsa | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-25T01:53:09Z | |
| dc.date.issued | 2024-05-15 | |
| dc.description | Reupload File Repositori 25 Februari 2026_Teddy/Hendra | |
| dc.description.abstract | 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di dalam penelitian ini diperoleh gambaran jelas mengenai pelaksanaan dan permasalahan pemberdayaan masyarakat Desa Sukorejo melalui pengembangan ekowisata mangrove Kali Lamong. Peneliti dapat menyimpulkan bahwasannya kegiatan pengembangan yang dilakukan PT. Petrokimia Gresik dalam hal ini belum dapat mendorong masyarakat berdaya meskipun adanya kebermanfaatan yang dirasakan oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pelaku perubahan tidak memperhatikan upaya pemberdayaan yang menjadi yang menjadi fokus utama pelaksanaan program. Upaya tersebut berupa bina manusia, bina usaha, bina lingkungan, dan bina kelembagaan. Kunci utama dari keberhasilan keempat bina yang menjadi prinsip utama terletak pada keberhasilan bina manusia dengan memperkuat kapasitas masyarakat dibandingkan memberi bantuan berupa pembangunan fisik yaitu sarana prasarana. Akibat dari tidak terlaksananya prinsip pemberdayaan tersebut menyebabkan permasalahan sebagai berikut: 1. Partisipasi Semu Masyarakat Proses pembentukan partisipasi semu berkaitan dengan aktivitas sebelum program pemberdayaan dilaksanakan, di mana PT. Petrokimia Gresik memiliki kebiasaan memberikan bingkisan tangan kepada masyarakat. Selain itu, penunjukan dalam pemilihan anggota Pokdarwis sebagai pengurus mengakibatkan adanya keterpaksaan. 2. Rendahnya Rasa Memiliki (sense of belonging) Rendahnya rasa memiliki untuk menjaga lingkungan hidup menyebabkan tidak terpenuhinya kualitas lingkungan hidup yang mendukung. 3. Masalah berkaitan dengan Ketergantungan Terdapat dua tipe ketergantungan, pertama yaitu ketergantungan pada peran tokoh masyarakat dan kedua pada bantuan pihak eksternal. 4. Masalah yang berkaitan dengan Tata Kelola Miskonsepsi tata kelola terjadi pada pihak internal, yaitu antara pihak desa dan Pokdarwis. 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan dari penelitian dan pembahasan di atas, berikut merupakan saran yang dapat disimpulkan oleh peneliti: 1. Pada pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, bina manusia merupakan hal utama yang harus ditekankan karena mereka merupakan subjek perubahan. Pendampingan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan kepada masyarakat Sukorejo agar mereka dapat meningkatkan kapasitas, menumbuhkan kesadaran dan partisipasi aktif, serta mengembangkan keahlian, ide, potensi atau bakat yang dimiliki. Keterlibatan masyarakat dalam proses pendampingan membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan kapasitas baik dalam hal teknis maupun kelompok masyarakat yaitu Pokdarwis. Sehingga masyarakat mampu mengklasifikasi, memprioritaskan, hingga menyelesaikan masalah internal, melaksanakan fungsi, serta mencapai tujuan bersama secara mandiri dan berkelanjutan 2. Meningkatkan rasa kepemilikan dan komitmen masyarakat dapat dicapai melalui melibatkan mereka sejak tahap awal perencanaan program sehingga mereka merasa menjadi bagian secara menyeluruh dan aktif dalam setiap tahap proses pengembangan program serta memiliki peran penting dalam menentukan hasil. Dalam melibatkan masyarakat sebagai bagian dari proses harus disertai dengan pengambilan keputusan yang demokratis, rasa menghargai satu sama lain, memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap individu atau kelompok yang berkontribusi signifikan dalam pelestarian dan pnegembangan ekowisata agar mereka merasa bahwa mereka dibutuhkan dan keberadaannya dapat berpengaruh pada program tersebut sehingga berdampak positif terhadap keberlanjutan program. 3. Pada setiap program pemberdayaan, seluruh komponen yang terlibat mulai dari pengurus desa, organisasi sosial kemasyarakatan, pihak perusahaan, dan tokoh masyarakat, harus berada pada posisi sejajar agar tidak terjadi dominasi peran dari salah satu pihak yang memiliki kapital lebih besar dibandingkan komponen-komponen lainnya. Sebaiknya memang diupayakan agar komponen-komponen lokal mendominasi, sedangkan pihak swasta dan tokoh masyarakat lebih berperan sebagai pendukung yang memfasilitasi mulai dari tahap identifikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan program, implementasi, sampai pada monitoring serta evaluasi. Diharapkan melalui metode seperti ini maka partisipasi dan rasa memiliki terhadap hasil-hasil pemberdayaan dapat terbentuk dengan baik demi keberlanjutan program yang mendukung pada upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat itu sendiri. 4. Pada program pemberdayaan, sebaiknya sumber daya lokal dioptimalkan untuk mendukung seluruh aktivitas program pemberdayaan. Misalnya dengan menyertakan anggaran desa sebagai salah satu sumber daya pendukung yang memang dimiliki oleh masyarakat lokal. Oleh karena itu, peran desa sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam tata kelola desa dapat secara otomatis menyertakan program pemberdayaan wisata mangrove ini sebagai bagian dari program desa yang bertujuan selain untuk memulihkan kondisi lingkungan hidup, juga berpotensi meningkatkan kemampuan ekonomi lokal yang dapat memanfaatkan hasil-hasil alam seperti ikan dan kerang simping untuk dijual. | |
| dc.description.sponsorship | DPU : Dr. Franciscus Adi Prasetyo, M.Si DPA : Akhmad Munif Mubarok S.Sos., M.Si | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/4393 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik | |
| dc.title | Pemberdayaan Masyarakat dan Permasalahannya | |
| dc.type | Other |
