Hubungan Oral Hygiene Terhadap Kualitas Hidup Anak Tunagrahita di Slb C TPA Jember, Slb Negeri Jember, dan Slb Negeri Branjangan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran Gigi
Abstract
Anak tunagrahita terbagi berdasarkan keterbatasan fisik yaitu retardasi
mental ringan, sedang, dan buruk serta berdasarkan jasmaninya yaitu down
syndrome, kretin, mikrosefali, dan hidrosefali. Tunagrahita baik dengan
keterbatasan fisik maupun jasmani mempunyai hambatan dalam fungsi intelektual
di bawah normal, sulit beradaptasi, dan keterbatasan motorik sehingga berdampak
pada tingkat oral hygiene. Rasa nyeri yang ditimbulkan akan menyebabkan anak
sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Kualitas hidup berhubungan dengan oral
health adalah respon terhadap kapasitas fisik, mental, dan sosial pada setiap orang
diakibatkan dari tingkat kesehatan gigi dan mulut. Kualitas hidup tunagrahita akan
menurun dampak dari oral hygiene yang buruk sehingga diperlukan penelitian
untuk mengetahui hubungan tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengkaji status
oral hygiene anak tunagrahita, status kualitas hidup anak tunagrahita, dan hubungan
antara oral hygiene dan kualitas hidup anak tunagrahita.
Penelitian dilaksanakan di SLB C TPA Jember, SLB Negeri Jember, serta
SLB Negeri Branjangan Jember pada bulan Agustus – Oktober 2024. Populasi
penelitian ini adalah anak tunagrahita yang terdiri dari retardasi mental dan down
syndrome pada SLB C TPA Jember, SLB Negeri Jember, serta SLB Negeri
Branjangan Jember. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive
sampling. Penelitian menggunakan data primer berupa pemeriksaan oral hygiene
pada anak tunagrahita menggunakan indeks OHI-S dan pengisian kuesioner OHIP
14 yang digunakan untuk menilai kualitas hidup terkait oral health.
Penelitian yang telah dilakukan pada tiga SLB di Jember menghasilkan data
anak tunagrahita pada SLB C TPA Jember berjumlah 23 anak (23%), anak
tunagrahita di SLB Negeri Jember berjumlah 51 anak (51%), dan anak tunagrahita
di SLB Negeri Branjangan berjumlah 26 anak (26%). Frekuensi kategori oral hygiene di tiga SLB terbanyak untuk sampel retardasi mental yaitu pada kategori
buruk (57%) dan sampel down syndrome yaitu kategori buruk (50%). Frekuensi
kualitas hidup terbanyak di tiga SLB Jember untuk sampel retardasi mental yaitu
pada kategori buruk (54,7%) dan sampel down syndrome yaitu kategori buruk
(57,2%). Hasil uji korelasi Pearson anak tunagrahita di tiga SLB Jember
menunjukkan bahwa nilai signifikansi adalah <0,05 yang berarti terdapat korelasi
antara kebersihan gigi dan kualitas hidup pada anak tunagrahita di SLB Jember.
Nilai pearson correlation pada SLB C TPA Jember sebesar +0,590, SLB Negeri
Jember sebesar +0,884, dan SLB Negeri Branjangan sebesar +0,828 yang
menunjukkan derajat korelasi antara kebersihan gigi dan kualitas hidup memiliki
korelasi positif dan sempurna.
Description
Pembimbing Utama
drg. Berlian Prihatiningrum, M.DSc, Sp.KGA
Pembimbing Pendamping
drg. Niken Probosari, M.Kes.
