Gangguan Kesehatan Mental Mahasiswi Kecanduan TikTok di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Salah satu media sosial yang banyak digunakan yakni TikTok. Jumlah
pengguna TikTok di Indonesia pada bulan Juli 2024 sejumlah 157,6 juta jiwa.
Mahasiswi yang berada pada fase perkembangan dewasa awal tidak dapat lepas dari
penggunaan TikTok. Peneliti melakukan studi pendahuluan kepada 82 mahasiswa
di tujuh perguruan tinggi di Kabupaten Jember dan diperoleh hasil 17% tidak
kecanduan TikTok, 5% mahasiswa kecanduan TikTok dan 78% mahasiswi lebih
kecanduan TikTok. Mahasiswi yang mengalami kecanduan TikTok mengeluhkan
dampak terhadap kesehatan mentalnya, seperti kesulitan manajemen waktu,
penurunan produktivitas, FOMO, gangguan tidur, overthinking, insecurity, serta
gangguan mood. Hal tersebut menunjukkan adanya tekanan psikologis yang
dialami mahasiswi akibat penggunaan TikTok sehingga penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis gangguan kesehatan mental mahasiswi kecanduan TikTok di
Kabupaten Jember menggunakan teori ABC (Antecedent-Behavior-Consequence).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Jember pada bulan
31 Januari – 31 Mei 2025 dengan 7 orang informan utama (IU) dan 7 orang
informan tambahan (IT). Proses penentuan informan dipilih melalui teknik
purposive. Teknik pengambilan data yang digunakan berupa wawancara mendalam
semi terstruktur dan dokumentasi. Triangulasi pada penelitian ini menggunakan
triangulasi teknik (menggabungkan wawancara mendalam dan dokumentasi
terhadap IU) dan triangulasisumber (wawancara mendalam kepada IU dan IT untuk
memperoleh sudut pandang yang beragam). Teknik analisis data yang digunakan
adalah thematic content analysis. Penelitian ini telah melakukan uji etik dengan No.
2910/UN25.8/KEPK/DL/2025. Salah satu media sosial yang banyak digunakan yakni TikTok. Jumlah
pengguna TikTok di Indonesia pada bulan Juli 2024 sejumlah 157,6 juta jiwa.
Mahasiswi yang berada pada fase perkembangan dewasa awal tidak dapat lepas dari
penggunaan TikTok. Peneliti melakukan studi pendahuluan kepada 82 mahasiswa
di tujuh perguruan tinggi di Kabupaten Jember dan diperoleh hasil 17% tidak
kecanduan TikTok, 5% mahasiswa kecanduan TikTok dan 78% mahasiswi lebih
kecanduan TikTok. Mahasiswi yang mengalami kecanduan TikTok mengeluhkan
dampak terhadap kesehatan mentalnya, seperti kesulitan manajemen waktu,
penurunan produktivitas, FOMO, gangguan tidur, overthinking, insecurity, serta
gangguan mood. Hal tersebut menunjukkan adanya tekanan psikologis yang
dialami mahasiswi akibat penggunaan TikTok sehingga penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis gangguan kesehatan mental mahasiswi kecanduan TikTok di
Kabupaten Jember menggunakan teori ABC (Antecedent-Behavior-Consequence).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Jember pada bulan
31 Januari – 31 Mei 2025 dengan 7 orang informan utama (IU) dan 7 orang
informan tambahan (IT). Proses penentuan informan dipilih melalui teknik
purposive. Teknik pengambilan data yang digunakan berupa wawancara mendalam
semi terstruktur dan dokumentasi. Triangulasi pada penelitian ini menggunakan
triangulasi teknik (menggabungkan wawancara mendalam dan dokumentasi
terhadap IU) dan triangulasisumber (wawancara mendalam kepada IU dan IT untuk
memperoleh sudut pandang yang beragam). Teknik analisis data yang digunakan
adalah thematic content analysis. Penelitian ini telah melakukan uji etik dengan No.
2910/UN25.8/KEPK/DL/2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antecedent perilaku kecanduan TikTok
pada mahasiswi di Kabupaten Jember, yakni antecedent alami berupa usia (19 – 22
tahun) dan tingkat pendidikan (semester 2 – 8); dan antecedent terencana berupa
keinginan pribadi individu (motivasi tertentu), algoritma TikTok (munculnya
konten yang sesuai), kebutuhan sosial (ikut tren dan terhubung dengan orang lain),
serta perasaan kesepian. Behavior kecanduan TikTok terbagi menjadi 6 aspek
indikator. Terdapat empat indikator yang dialami oleh semua informan yakni
salience (TikTok menjadi hal terpenting dalam kehidupan), mood modification
(sarana pelarian emosional), tolerance (adanya peningkatan intensitas penggunaan
TikTok), dan conflict (adanya gangguan pada hubungan dan aktivitas karena
penggunaan TikTok), sedangkan dua indikator lainnya yakni withdrawal
(munculnya rasa tidak nyaman akibat perubahan frekuensi penggunaan) dan relaps
(intensitas menggunakan kembali yang tinggi) dialami oleh sebagian kecil dari
informan. Consequence yang terkait indikator gangguan kesehatan mental terjadi
pada semua informan yakni stres berupa adanya fluktuasi emosional dan perasaan
gelisah akibat konten; overthinking berupa perasaan khawatir dan berpikir terlalu
berlebihan terkait pendidikan, karir masa depan, hubungan cinta (asmara), dan
persahabatan; FOMO (Fear of Missing Out) berupa perasaan takut tertinggal tren,
informasi, dan pembelian produk; insecurity berupa rasa rendah diri akibat standar
kecantikan TikTok dan pencapaian hidup orang lain; dan apatis seperti penundaan
aktivitas, pengabaian kegiatan pembelajaran, dan berkurangnya interkasi sosial.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku kecanduan TikTok pada
mahasiswi di Kabupaten Jember dipicu oleh faktor antecedent alami seperti usia
dan tingkat pendidikan, serta antecedent terencana yang mencakup keinginan
pribadi, algoritma TikTok, kebutuhan sosial, dan perasaan kesepian. Perilaku
kecanduan tercermin dalam enam indikator, dengan empat indikator dialami oleh
seluruh informan. Kecanduan ini berdampak pada kesehatan mental mahasiswi,
meliputi stres, overthinking, FOMO, insecurity, hingga apatis. Saran dalam
penelitian ini bagi mahasiswi yakni diharapkan lebih meningkatkan kontrol diri
(self control) terhadap waktu dan durasi penggunaan TikTok agar tidak
mengganggu aktivitas akademik, sosial, maupun kesehatan mental.
Description
Reupload file repositori 4 februari 2026_ratna/dea
