Hubungan Keparahan Gejala berdasarkan SNOT-22 dengan Temuan Nasoendoskopi (Modified Lund-Kennedy Score) pada Pasien Rinosinusitis Kronis di RSU Kaliwates Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran

Abstract

Rinosinusitis kronis (RSK) menjadi salah satu dari 10 besar penyakit THT di Indonesia walaupun belum ada angka pasti terkait prevalensinya. Rinosinusitis kronis didefinisikan sebagai peradangan pada rongga hidung dan sinus yang ditandai dengan minimal durasi 12 minggu dan memiliki minimal dua gejala, seperti hidung tersumbat/kongesti/obstruksi, nasal drip (anterior/posterior), hilang atau berkurangnya penciuman (anosmia/hiposmia), nyeri/rasa tekan pada wajah. Pada pedoman lain, gejala tersebut harus dibuktikan dengan bukti inflamasi pada rongga hidung yang didapatkan melalui CT-scan atau nasoendoskopi. Baik CT scan maupun nasoendoskopi masih belum tersebar merata di seluruh Indonesia terutama di Puskemas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat keparahan gejala rinosinusitis kronis dengan temuan nasoendoskopi. Kami menganalisis kemampuan The 22-item of Sinonasal Outcome Test (SNOT-22) sebagai instrument diagnosis berdasarkan hubungannya dengan temuan nasoeenoskopi (Modified Lund-Kennedy Endoscopic Score). Dengan mengetahui hubungan antara keparahan gejala rinosinusitis kronis dengan temuan nasoendoskopi, diharapkan dapat membantu institusi kesehatan dan masyarakat dalam melakukan diagnosis dan skrining RSK berdasarkan keparahan gejala. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2024-Mei 2025. Populasi penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis rinosinusitis di Rumah Sakit Umum Kaliwates Jember. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer berupa penilaian keparahan gejala dengan kuesioner The 22-item of Sinonasal Outcome Test dan data sekunder berupa hasil nasoendoskopi yang dinilai dengan MLK dan didapat dari rekam medis. Data dianalisis dengan uji analisis univariat untuk mendapatkan data karakteristik responden. Uji analisis bivariat (Korelasi Spearman) juga digunakan untuk mendapatkan tingkat korelasi antara keparahan gejala dengan temuan nasoendoskopi.

Description

Reaploud Repository 25 Maret_agus

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By