Pengaruh Paparan Sub Akut Chlorpyrifos Dosis Rendah terhadap Gambaran Histopatologi Jejunum Tikus Wistar
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Petani sering menggunakan pestisida untuk membunuh hama seperti
insekta, hewan pengerat, dan jamur. Salah satu jenis pestisida yang paling sering
digunakan adalah chlorpyrifos. Di Indonesia, chlorpyrifos adalah pestisida
organofosfat yang telah lama digunakan dan diizinkan untuk digunakan untuk
mengontrol serangga, terutama pada tanaman sayuran, buah, dan biji-bijian.
Keracunan chlorpyrifos, baik dosis tinggi maupun rendah, dapat menyebabkan
gangguan sistem imun dan saraf, termasuk gejala neurologis yang lebih parah,
penurunan kemampuan neurobehavioral, penurunan sensitivitas terhadap getaran,
dan gangguan konduksi saraf. Chlorpyrifos bekerja dengan cara menghambat
enzim asetilkolinestrase (AChE) pada manusia, mamalia, dan serangga. Bagian
kedua dari usus, yang terletak di kuadran kiri atas perut, adalah jejunum. Mukosa
jejunum seratus kali lebih besar dari kulit karena banyak lipatan dan tonjolan.
Akibatnya, sembilan puluh persen karbohidrat, protein, dan air diserap di jejunum,
dan sisanya diserap oleh ileum dan kolon.
Penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental, dengan
menggunakan desain posttest only control group dengan sistem random sampling
pada 12 hewan coba tikus wistar jantan (Rattus novergicus) usia 8-12 minggu
dengan berat badan 120–200 gram, hewan percobaan aktif secara fisik, dan belum
pernah digunakan sebagai sampel sebelumnya. Kriteria ekslusi yakni tikus
kehilangan sepuluh persen berat badannya setiap minggu, mengalami perubahan
perilaku, seperti kehilangan nafsu makan dan sakit, dan mati selama penelitian.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian paparan pestisida
chlorpyrifos selama tujuh hari dengan dosis pemberian 5 mg/kgbb. Variabel terikat
dalam penelitian ini adalah gambaran histopatologi (sel radang, kerusakan epitel
dan edema submukosa) dan histomorfometri (ketinggian vili, ketebalan vili,
kedalaman kripta, kedalaman tunika mukosa, kedalaman tunika submukosa dan
kedalaman tunika submukularis) dari jejunum yang diamati dengan mikroskop
cahaya menggunakan perbesaran 40x dan 100x. Pengukuran histomorfometri
menggunakan aplikasi ImageJ. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
Farmakologi, Rumah Hewan Coba, dan Laboratorium Histologi Fakultas
Kedokteran Universitas Jember serta Laboratorium Histologi SMK Analis
Kesehatan Jember. Analisis data Histopatologi menggunakan Mann Whitney dan
Histomorfometri menggunakan Independent sample t test. Data histomorfometri
juga dianalisis multivariat menggunakan MANOVA.
Data pengamatan histopatologi yang dianalisis dengan Shapiro Wilk
diperoleh menunjukkan persebaran data tidak normal (p<0,05) dan uji levene Test menunjukkan persebaran data yang homogen (p>0,05) uji kemudian dilanjutkan
dengan Mann Whitney yang menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan pada
parameter sel radang dan kerusakan epitel (p<0,05). Uji Normalitas data
histomorfometri menggunakan Shapiro Wilk yang menunjukkan persebaran data
normal (p>0,05) dan uji levene Test menunjukkan persebaran data yang homogen
(p>0,05). Uji kemudian dilanjutkan dengan Independent sample t test yang
menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan
perlakuan di seluruh parameter. Uji multivariat MANOVA juga menunjukkan
paparan chlorpyrifos tidak memberikan perbedaan yang bermakna secara bersama
sama di seluruh parameter histomorfometri.
Description
Reaploud Repository 27 Maret_agus
