Uji Viabilitas Cendawan Entomopatogen (Beauveria Bassiana) pada Berbagai Media Kotoran Hewan
| dc.contributor.author | Achmad Fikri Hidayatullah | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-09T22:27:27Z | |
| dc.date.issued | 2025-07-23 | |
| dc.description | :: Finalisasi Repositori File 10 Juni 2026_Kurnadi | |
| dc.description.abstract | Peningkatan penggunaan pupuk anorganik di sektor pertanian telah berdampak pada penurunan kualitas tanah, khususnya kandungan bahan organik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan pemanfaatan pupuk organik padat (POP), yang tidak hanya memperbaiki struktur tanah, tetapi juga mendukung aktivitas mikroorganisme tanah, termasuk cendawan entomopatogen seperti Beauveria bassiana. Cendawan ini dikenal luas sebagai agen hayati dalam pengendalian hama serangga karena bersifat patogen terhadap berbagai jenis serangga tanpa menimbulkan resistensi. Namun, produksi massal B. bassiana selama ini masih bergantung pada media beras jagung, yang relatif mahal. Oleh karena itu, diperlukan alternatif media yang lebih ekonomis dan berkelanjutan, salah satunya adalah bahan organik dari kotoran hewan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji viabilitas B. bassiana yang diperbanyak pada berbagai jenis media bahan organik kotoran hewan, yaitu kotoran kambing, sapi, ayam, dan guano, dengan beras jagung sebagai kontrol. Viabilitas diuji melalui dua parameter utama, yaitu kerapatan konidia dan persentase perkecambahan konidia yang diamati selama periode penyimpanan 12 minggu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua faktor, yaitu jenis media (5 taraf) dan masa simpan (12 taraf), serta diulang sebanyak lima kali, menghasilkan 300 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis media dan masa simpan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kerapatan dan perkecambahan konidia. Media bahan organik kotoran kambing menghasilkan kerapatan konidia tertinggi sebesar 2,5 × 10¹⁰ pada minggu ke-6, yang lebih tinggi dibandingkan media kontrol beras jagung (4,2 × 10⁹). Media ini juga menghasilkan tingkat perkecambahan konidia tertinggi setelah 24 jam inkubasi, yaitu sebesar 59%. Kandungan C-organik yang vii tinggi (46,58%) serta struktur fisik yang granular dan mampu menjaga kelembapan menjadi faktor utama keberhasilan media ini. Adapun masa simpan optimal ditemukan pada minggu ke-7 hingga ke-8, saat cendawan berada dalam kondisi fisiologis aktif dengan viabilitas tertinggi. Media kotoran sapi, ayam, dan guano juga menunjukkan hasil yang signifikan dalam mendukung pertumbuhan konidia, namun masih berada di bawah efektivitas kotoran kambing. Kandungan nutrisi utama seperti nitrogen, fosfor, dan kalium pada masing-masing media turut mempengaruhi produksi dan daya perkecambahan konidia. Penurunan kerapatan konidia diamati setelah minggu ke-9, yang disebabkan oleh kurangnya nutrisi pada media tumbuh dan akumulasi metabolit toksik. Selain itu, korelasi antara kerapatan konidia dan rasio perkecambahan menunjukkan bahwa kerapatan yang terlalu tinggi justru dapat menurunkan kemampuan konidia untuk berkecambah akibat kompetisi nutrien dan stres lingkungan. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Irwanto Sucipto, S.P., M.Si. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/8493 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Pertanian | |
| dc.subject | Animal manure | |
| dc.subject | Beauveria bassiana | |
| dc.subject | Conidia | |
| dc.subject | Germination | |
| dc.subject | Viability | |
| dc.title | Uji Viabilitas Cendawan Entomopatogen (Beauveria Bassiana) pada Berbagai Media Kotoran Hewan | |
| dc.type | Other |
