Uji Viabilitas Cendawan Entomopatogen (Beauveria Bassiana) pada Berbagai Media Kotoran Hewan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Peningkatan penggunaan pupuk anorganik di sektor pertanian telah berdampak
pada penurunan kualitas tanah, khususnya kandungan bahan organik. Salah satu
upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan
pemanfaatan pupuk organik padat (POP), yang tidak hanya memperbaiki struktur
tanah, tetapi juga mendukung aktivitas mikroorganisme tanah, termasuk cendawan
entomopatogen seperti Beauveria bassiana. Cendawan ini dikenal luas sebagai
agen hayati dalam pengendalian hama serangga karena bersifat patogen terhadap
berbagai jenis serangga tanpa menimbulkan resistensi. Namun, produksi massal B.
bassiana selama ini masih bergantung pada media beras jagung, yang relatif mahal.
Oleh karena itu, diperlukan alternatif media yang lebih ekonomis dan
berkelanjutan, salah satunya adalah bahan organik dari kotoran hewan.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji viabilitas B. bassiana yang diperbanyak pada
berbagai jenis media bahan organik kotoran hewan, yaitu kotoran kambing, sapi,
ayam, dan guano, dengan beras jagung sebagai kontrol. Viabilitas diuji melalui dua
parameter utama, yaitu kerapatan konidia dan persentase perkecambahan konidia
yang diamati selama periode penyimpanan 12 minggu. Penelitian menggunakan
rancangan acak lengkap (RAL) dua faktor, yaitu jenis media (5 taraf) dan masa
simpan (12 taraf), serta diulang sebanyak lima kali, menghasilkan 300 satuan
percobaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis media dan masa simpan memberikan
pengaruh sangat nyata terhadap kerapatan dan perkecambahan konidia. Media
bahan organik kotoran kambing menghasilkan kerapatan konidia tertinggi sebesar
2,5 × 10¹⁰ pada minggu ke-6, yang lebih tinggi dibandingkan media kontrol beras
jagung (4,2 × 10⁹). Media ini juga menghasilkan tingkat perkecambahan konidia
tertinggi setelah 24 jam inkubasi, yaitu sebesar 59%. Kandungan C-organik yang
vii
tinggi (46,58%) serta struktur fisik yang granular dan mampu menjaga kelembapan
menjadi faktor utama keberhasilan media ini. Adapun masa simpan optimal
ditemukan pada minggu ke-7 hingga ke-8, saat cendawan berada dalam kondisi
fisiologis aktif dengan viabilitas tertinggi.
Media kotoran sapi, ayam, dan guano juga menunjukkan hasil yang signifikan
dalam mendukung pertumbuhan konidia, namun masih berada di bawah efektivitas
kotoran kambing. Kandungan nutrisi utama seperti nitrogen, fosfor, dan kalium
pada masing-masing media turut mempengaruhi produksi dan daya perkecambahan
konidia. Penurunan kerapatan konidia diamati setelah minggu ke-9, yang
disebabkan oleh kurangnya nutrisi pada media tumbuh dan akumulasi metabolit
toksik. Selain itu, korelasi antara kerapatan konidia dan rasio perkecambahan
menunjukkan bahwa kerapatan yang terlalu tinggi justru dapat menurunkan
kemampuan konidia untuk berkecambah akibat kompetisi nutrien dan stres
lingkungan.
Description
:: Finalisasi Repositori File 10 Juni 2026_Kurnadi
