Analisis Pengaruh Variasi Suhu dan Waktu Torefaksi terhadap Karakteristik Biochar Limbah Kulit Kopi Robusta (Coffea Canephora) menggunakan Reaktor Tipe Rotary
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Kecamatan Silo di Kabupaten Jember merupakan salah satu sentra produksi
kopi terbesar di Jawa Timur dengan produksi mencapai 788,58 ton pada 2019.
Produksi ini berpotensi menghasilkan limbah kulit kopi dalam jumlah besar,
sekitar 45% dari total buah kopi (Puspaningrum & Sari, 2021). Namun, limbah ini
umumnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak bernilai rendah atau dibuang
begitu saja. Rendahnya pemanfaatan ini disebabkan kurangnya kesadaran
masyarakat terhadap dampak lingkungan, seperti emisi metana yang memperparah
pemanasan global (Syarifah et al., 2022). Salah satu solusi potensial adalah
mengolah limbah kulit kopi menjadi biochar. Biochar dapat dihasilkan melalui
pirolisis, gasifikasi, atau torefaksi, dengan torefaksi menjadi metode paling efisien
untuk skala kecil karena berlangsung pada suhu 200–300°C dan menghasilkan
biochar kaya karbon (Novita et al., 2021).
Metode torefaksi adalah salah satu cara untuk melakukan pengolahan
termokimia biomassa. Metode torefaksi pada penelitian ini dilakukan dengan
variasi suhu 190°C, 210°C, 230°C dan waktu 90, 120, 150 menit. Dari variasi
suhu dan waktu torefaksi menghasilkan 9 perlakuan dan 27 unit percobaan. Proses
pembuatan biochar dilakukan dengan reaktor biochar tipe rotary. Parameter yang
diamati meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, pH, dan tekstur. Karakteristik
biochar dianalisis menggunakan microsoft excel, dengan perhitungan rata-rata,
standar deviasi, nilai minimum, dan maksimum, kemudian dianalisis secara
deskriptif. Kualitas biochar kemudian dibandingkan terhadap standar SNI 06-
3730-1995 dan referensi penelitian biochar sebelumnya.
Karakteristik biochar kulit kopi menunjukkan bahwa suhu dan waktu
torefaksi yang lebih tinggi menurunkan rendemen dan kadar air, serta
meningkatkan kadar abu, pH, dan kerapuhan tekstur. Perlakuan terbaik diperoleh
pada suhu 230°C selama 150 menit (X3Y3), menghasilkan biochar dengan kadar
air rendah (3,0%), pH basa (8,67), dan tekstur rapuh berpori halus. Meskipun
kadar abu melebihi SNI, sifat ini dapat meningkatkan retensi kelembaban dan
efektivitas pH biochar sebagai pembenah tanah masam.
Description
Reupload File Repositori 5 Februari 2026_Rudy K/Lia
